Revolusi Mental dan Laptop Baru

Minggu kemarin diisi dengan berbagai pembicaraan di media sosial (saya sudah lama nggak nonton tivi), dan salah satu kata kunci menarik yang saya dapatkan adalah Revolusi Mental yang dilontarkan oleh salah seorang calon presiden.

Saya juga kurang tahu apa maksudnya, silakan baca aja artikelnya sendiri di media. Yang jelas, dalam seminggu ini saya melakukan sebuah revolusi mental”: setelah kurang lebih 10 tahun menggunakan laptop bersistem operasi Microsoft Windows, saya memutuskan berganti laptop menjadi Apple MacBook Pro with Retina Display (MBPr).

Kalau pakai istilahnya seorang motivator terkenal, saya ganti laptop ini dalam keadaan Mestakung: Semesta Mendukung. Beberapa hal yang terjadi bersamaan yang memutuskan saya mengganti laptop menjadi MBPr adalah:

  • Garansi laptop ThinkPad T420 saya yang lama sudah habis. Laptop seperti ThinkPad yang dibiarkan tanpa garansi bagaikan sebuah bom waktu yang menunggu meledak; ketika sebuah komponen di laptop ini rusak, maka biaya reparasi yang harus anda tanggung cukup mahal.
  • Saya ingin berganti laptop yang lebih ringan dan lebih cepat dinyalakan, namun lebih powerful dan memiliki fitur yang menjanjikan. OS yang dipakai haruslah OS masa depan, dan pilihan tersisa tinggallah MS Windows 8 dan Mac OS X. Windows 7 sudah tidak bisa saya pakai, bukan karena ia jelek, namun jika user yang saya tangani menggunakan OS yg lebih baru daripada saya, saya tidak dapat menjawab pertanyaan mereka jika ada permasalahan di ITB terkait laptop mereka.
  • Penerus seri ThinkPad T420 adalah seri ThinkPad T440 dengan 3 macam seri: T440, T440p dan T440s. Muncul juga ThinkPad X1 Carbon terbaru yang ringan dan tipis. Namun dalam kesempatan saya memegang langsung laptop tersebut di Singapura, saya tidak merasakan greget nya memegang ThinkPad lagi. ThinkPad telah diubah oleh Lenovo menjadi MacBook wannabe dengan OS Windows 8. (Demo unit yang saya pegang malah menggunakan Windows 7). Kalau saya diberi MacBook kualitet tanggung, kenapa nggak pakai MacBook beneran aja sekalian?
  • Ada seorang teman kontak di WhatsApp, menawarkan sebuah MacBook Pro Retina 1st Generation 15″ dengan harga yang sama seperti MBPr 13″. Mint condition, dan masih menggunakan NVidia GPU GT650M dengan display besar yang gorgeous (saya nggak menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkannya). Karena anggarannya masih masuk, saya ambil saja laptop yang ditawarkan. Harga yang cukup pantas, dan lebih murah daripada seri ThinkPad yang saya inginkan.

Dan inilah dia: MBP retina 15″, CPU Core i7, 8GB RAM, 256GB SSD, NVidia GT650M, dengan Mac OS X 10.9 (Mavericks).

MBP Retina diupgrade ke 10.9.3
MBP Retina diupgrade ke 10.9.3

Kesan saya setelah pakai laptop ini selama seminggu adalah:

  • Display. Maaf saya memang ndeso baru pakai barang seperti ini, kesannya cuma satu: gorgeous. Akhirnya jadi bersyukur kepada Allah SWT masih dikarunia pandangan yang tajam untuk melihat ketajaman display ini. Tulisan terasa seperti buku cetak, gambar terasa dalam dan tajam.
  • Booting. Ya sekali lagi saya akui bahwa saya ndeso, 10 tahun lebih pakai laptop dengan rotating disk, begitu menggunakan SSD terasa seperti pengguna kereta api uap disuruh naik kereta Maglev dengan kecepatan 400 km/jam. Kalau pelawak Basuki almarhum bilangnya, “Bablas anginé!”. Sudah nggak ada lagi jeda seperti digambarkan komik XKCD, “it’s compiling”, tapi ya kira-kira begitulah, you get the point.
  • Mac OS X dan Terminal. Maklum dari dulu sudah suka pakai FreeBSD, dan aplikasi Terminal memberikan dua sisi mata uang: pekerja konvensional yang masih berurusan dengan dokumen MS Office, dan pekerja IT full stack yang berurusan dengan UNIX console. CLI terasa familiar, apalagi dengan munculnya Brew, diikuti dengan integrasi KeyChain dengan ssh agent. Terbuka berbagai kemungkinan baru.
  • Form factor. Bentuknya tipis dan beratnya ringan, membuat saya nggak mau lagi menggotong ThinkPad saya lagi. Saya memang mengibaratkan ThinkPad saya sebagai jeep Landrover diesel yang powerful setelah sekian lama dipanaskan mesinnya, namun saya saat ini tidak lagi memerlukan Landrover, saya memerlukan mobil yang cepat dinyalakan dan ringan tanpa mengurangi performa.
  • Batere. Laptop terdahulu saya memiliki 2 buah harddisk. Kok bisa? Iya, slot DVD-RW nya saya tukar dgn slot harddisk kedua, sehingga ThinkPad saya memiliki 2x500GB harddisk. Namun yang dikorbankan adalah konsumsi batere. Saya nggak bisa lama-lama tanpa charger laptop jika membawa laptop saya. Berbeda jauh dengan ThinkPad, MBPr baterenya cukup longgar untuk ditinggal selama 5 jam, bergantung GPU apa yang ia pakai, apakah GPU Intel (integrated) atau GPU NVidia (discrete).

Memanglah sudah diperingatkan oleh beberapa orang, sekali menggunakan laptop seperti ini, anda tidak dapat bekerja dengan laptop lain, sebab semuanya terasa salah.

Martabak & MBPr
Makan martabak sambil main Visio 2013. Lho kok bisa? Lihat icon ke-6 dari kanan.

Apakah ada masalah dengan revolusi mental ini? Tentu saja ada, namanya juga revolusi. Beberapa diantaranya adalah:

  • Tidak semua aplikasi Windows yang saya pakai ada gantinya. Contohnya Microsoft Visio. Itulah gunanya aplikasi VMware Fusion yang saya pakai untuk menjalankan MS Windows 8. Mode Unity membuat aplikasi Visio yang terbuka di VMware dapat ditampilkan seakan-akan ia aplikasi Mac native.
  • Tombol Control (⌃), Alt/Option (⌥) dan Command (⌘). Bagi anda pengguna Windows yang sudah terbiasa dengan berbagai keyboard shortcut, penggunaan tombol Control di Windows sudah otomatis anda pakai, namun dengan Mac OS X, bersiaplah berganti-ganti tombol ini, terlebih lagi jika anda mengeksekusi shortcut ini pada aplikasi Windows di VMware Fusion. Saya masih berusaha mencari cara paling optimal untuk menyelesaikan masalah ini.
  • Dongles! Ringan dan tipisnya bentuk MBPr ini membuat Apple menghilangkan berbagai interface yang biasa dipakai. VGA D-SUB tidak ada, Ethernet tidak ada, USB hanya 2 port. Gantinya anda harus memiliki dongle miniDP-VGA dan dongle USB Ethernet. Saya dapat dongle USB Ethernet dalam paket ini, namun speed nya hanya 100Mbps, bukan 1Gbps. Untungnya di Bandung ada supermarket Borma, dongle miniDP-VGA di sana dibanderol hanya 150 ribu rupiah saja.
  • Disk space yang kurang longgar. 256GB SSD ini menyenangkan untuk kecepatan, tapi bukan untuk kapasitas. Jika anda hobi mendownload video HD dari YouTube dan Vimeo, sebaiknya anda menyediakan harddisk tersendiri untuk video anda. SSD 512GB ideal, namun harganya masih mahal, mungkin dalam 2-3 tahun ke depan baru akan saya pakai.

Akhirnya apa itu arti revolusi mental? Revolusi mental bagi saya adalah tidak takut memasuki dunia baru, teknologi baru, dan kesempatan baru, walaupun itu membuat saya terpaksa belajar lagi, walaupun itu membuat saya menemui berbagai hambatan waktu adopsi teknologi. Revolusi mental membuat saya tidak lagi memiliki alasan untuk tidak berkarya, karena alat kreasi sudah tersedia, sekarang tergantung operator dari alat kreasi bernama MBP Retina ini. Mudah-mudahan Allah SWT meredhoi.

Wassalam,

8 pemikiran pada “Revolusi Mental dan Laptop Baru

  1. Waktu pindah dari HP-Compaq ke MBP saya juga gregetan dgn shortcut2 nya. Dan yang paling berasa, sangat merindukan tombol “Home” dan “End”. Udah coba pake tool keymapping gitu, tapi gak konsisten antara satu aplikasi dengan aplikasi lain.. Ada solusi utk ini kah? Saya masih belum nemu.

  2. Ping-balik: 13 Tips Migrasi Keyboard Shortcut Mac OS X bagi Mantan Pengguna Windows | Admin Juga Manusia 2.0 ™

  3. Betul sekali Mas, sudah pakai Macbook susah balik laptop konvensional, mungkin Ultrabook bisa kali, tapi belum pernah coba. VMWare Fusion memang wajib, selain itu E/// kasih web/Java based windows workstation yang bisa diremote dari Mac, jadi Visio gak masalah

    Kalo saya pake MBA 2011, udah hampir 3 tahun tapi masih tokcer kayak baru, jadinya gak ada justifikasi buat upgrade, ntar paling nunggu MBAr😀

    1. Memang kayaknya susah, apalagi kalau keranjingan buka Terminal, lalu cek IP address pakai ifconfig, ps ax dan kill process yang nggak bisa di-kill di Activity Monitor.

      Asyiknya sih possibilities nya bertambah dari sekedar pakai Windows, dan sekarang aku perhatikan orang-orang networkers pada pakai Mac semua, sebab semua hal yang baru bisa dijalankan di Mac bersamaan dengan kerjaan existing mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s