Blogging Lagi (Part 2): APRICOT/APAN Meeting 2011

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Akhirnya saya coba lanjutkan lagi blog ini sesuai janji saya di blog post terdahulu.

Kali ini saya akan sharing mengenai meeting APRICOT/APAN 2011 yang saya hadiri sebulan yang lalu.

Affan @ APRICOT-APAN 2011

Sejak tahun 2006 saya mengikuti APAN Meeting di berbagai tempat, namun APAN Meeting 2011 kali ini cukup spesial, karena diselenggarakan bersamaan dengan APRICOT Meeting di venue & negara yang sama. Kalau di tahun-tahun sebelumnya meeting APAN dan APRICOT ini diselenggarakan di negara yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula. Meeting ini memungkinkan saya bisa mengikuti sesi APRICOT dan APAN secara bersamaan. Peserta meeting APRICOT bisa nyempil ikut di sesi APAN, dan sebaliknya peserta meeting APAN bisa nyempil ikut di sesi APRICOT Smile O iya, meeting ini juga diselenggarakan bersamaan dengan APNIC Meeting.

Beberapa hal yang ingin saya tuliskan pada artikel kali ini adalah:

Keynote Speech oleh Vint Cerf

Meeting ini menjadi menarik karena menghadirkan Vint Cerf, yaitu salah seorang “Father of Internet” yang memberikan keynote speech pada pembukaan meeting ini.

 

IMG-20110221-00025

IMG-20110221-00028

Vint Cerf menyampaikan topik mengenai Future Internet, dengan komponen penyusunnya seperti protokol IPv6, Internationalized Domain Names (IDN), sekuriti, serta visinya mengenai Interplanetary Internet, yaitu bagaimana komunikasi ruang angkasa memerlukan protokol yang mirip seperti Internet di planet bumi saat ini.

Kesan yang saya tangkap setelah mendengarkan Keynote Speech dari beliau ini adalah visinya yang jauh kedepan mengenai teknologi Internet yang sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Selain itu, topik yang disampaikan ini walaupun futuristik namun cukup mudah dimengerti oleh orang awam. Menurut saya itu karena orang yang menjadi salah satu konseptor protokol TCP/IP ini

Video presentasi serta transkrip Keynote Speech dari Vint Cerf ini dapat dilihat di website APRICOT-APAN 2011. Jika anda berada di ITB, anda dapat mendownloadnya di FTP Server ITB.

IPv6 Transition Conference

APRICOT-APAN 2011 Meeting ini diawali dengan berita habisnya alokasi IPv4 address yang dimiliki oleh IANA setelah alokasi tadi diberikan kepada 5 organisasi RIR (Regional Internet Registry). Dengan habisnya alokasi IPv4 address ini, maka pengembangan alokasi IPv4 address akan terhenti dalam beberapa waktu kedepan, dan semua pihak di Internet, terutamanya penyedia layanan Internet diharapkan mulai melakukan transisi ke protokol IPv6 yang menyediakan alokasi address yang sangat luas.

Topik transisi ini dibahas khusus pada APRICOT-APAN 2011 ini dengan mengadakan satu sesi diskusi khusus bernama IPv6 Transition Conference. Saya turut menghadiri sesi ini, walaupun hanya separuh waktu karena saya harus berpindah ke sesi lainnya.

IMG-20110222-00043

IMG-20110222-00039

Sesi ini membahas pengalaman transisi IPv6 oleh pemain-pemain besar Internet, seperti Google, Facebook, Yahoo, Cisco, Huawei dan sebagainya. Vint Cerf pun turut hadir memberikan kata sambutan pembuka. Para pemain besar ini mengemukakan bagaimana metoda  transisi IPv6 yang mereka lakukan, yang sedemikian rupa dilakukan agar tidak mengganggu layanan yang mereka sediakan melalui jaringan IPv4 yang telah ada.

Video presentasi serta slide presentasi dari setiap pembicara dapat anda akses di situs IPv6 Transition Conference.

Software Defined Network

Salah satu topik menarik yang dibahas di APRICOT-APAN 2011 adalah topik Software-Defined Network yang masuk ke dalam workgroup Future Internet di APAN.

IMG-20110222-00051

Apa itu Software-Defined Network? Software-Defined Network adalah satu jaringan komputer yang sangat fleksibel karena ia dikonfigurasi dan dikendalikan melalui software terpusat.

Jika definisi ini belum kena, coba bayangkan satu jaringan dimana semua router & switch menerima satu konfigurasi & network policy dari satu sistem terpusat tanpa setiap router & switch tadi perlu dikonfigurasi satu-persatu.

Konsep ini sebenarnya sudah mulai diadopsi oleh vendor Wireless LAN yang menawarkan pengendalian access point Wifi terpusat dari sebuah controller, dimana semua access point Wifi tadi menerima konfigurasi (SSID, channel, security setting) dari controller tadi.

Teknologi SDN ini mulai dikembangkan oleh Stanford University yang mengeluarkan teknologi OpenFlow. Stanford University juga mengajak berbagai institusi, seperti universitas di AS dan di luar AS (Jepang, Hong Kong, Korea) serta beberapa vendor perangkat jaringan untuk mengembangkan teknologi ini.

Teknologi OpenFlow ini memiliki dua komponen, yaitu OpenFlow Controller dan OpenFlow Switch. OpenFlow Controller akan mengirimkan konfigurasi policy yang diinginkan kepada OpenFlow Switch. OpenFlow Switch menerima konfigurasi untuk melewatkan flow paket tertentu. Flow paket yang dilewatkan ini sangat fleksibel, mulai dari konfigurasi layer 2 (VLAN ID, MAC address), layer 3 (IP address), bahkan sampai layer 4 (TCP/UDP port). OpenFlow switch akan menerima instruksi untuk meneruskan tipe flow paket ini ke port interface nya.

Kesimpulan

Demikian beberapa hal yang bisa saya sharing di blog ini. Beberapa topik akan saya tulis secara terpisah untuk memberikan detail yang lebih baik.

Mudah-mudahan berguna,

Wassalam,

10 alasan kenapa kultwit harusnya dijadikan blog saja

Salam,

twitter

 

Saya beberapa kali diforwardkan potongan kultwit (kuliah di Twitter) milik orang lain di timeline Twitter saya oleh beberapa teman yang saya follow. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada orang-orang di Twitter yang hobi bikin kultwit dan kepada teman-teman yang saya follow di Twitter, saya akan tuliskan 10 alasan kenapa kultwit itu sebaiknya dijadikan blog saja:

 

1. Dengan jumlah karakter hanya 140, dikurangi dengan nama account Twitter dan hashtag, informasi yang anda kemukakan akan sangat terbatas. Platform blog tidak dibatasi karakter.

2. Informasi di Twitter tidak diarchive oleh Twitter melainkan hanya 2 minggu saja. Bagaimana jika informasi yang di-kultwit tadi diperlukan orang lain di waktu yang akan datang?  Lain halnya dengan blog (misal Blogspot.com, WordPress.com) yang terarchive untuk waktu yang cukup lama. Anda dapat memiliki portfolio tulisan yang lebih lengkap dibandingkan ngultwit.

3. Apakah Twitter ada SEO nya? Apakah kultwit punya SEO nya? Apakah hashtag itu sebuah SEO? Saya belum tahu bagaimana informasi anda ini teroptimasi dengan baik di search engine. Lain halnya dengan blog yang sudah teroptimasi dengan long-readable URL yang mudah dicari di search engine.

4. Bagaimana kalau kultwit tadi sebegitu bagusnya, sehingga ia dijadikan referensi oleh beberapa orang? Bagaimana memasukkan kultwit anda ke blog orang lain? Bagaimana memasukkan kultwit tadi sebagai referensi tugas akhir, misalnya? Anda tidak akan punya masalah seperti ini jika kultwit anda dimasukkan ke dalam blog.

5. Kultwit tidak dapat diupdate, diperbarui jika ada informasi yang lebih baru kecuali dengan cara bikin kultwit lagi. Dengan konsep penomoran seperti 1, 2, 3 dan seterusnya kepada kultwit ini, bagaimana kalau ada materi yg perlu disisipkan diantara nomor 2 dan 3, misalnya? Jadi ingat programming BASIC yang menggunakan penomoran 10, 20, 30 untuk menyediakan ruang terhadap penyisipan kode diantara kode existing 🙂 Blog lebih manusiawi, dengan menyediakan format seperti strikethrough atau kita bisa tambahkan informasinya tanpa mengganti URL informasi di blog.

6. Twitter tidak mendukung masuknya rich media (gambar, audio/video) untuk mendukung pendapat anda. Adanya URL shortener hanya akan mengurangi jumlah karakter informasi yang ingin anda sampaikan. Lain halnya dengan blog yang sangat mudah melakukan embed rich media seperti gambar, video Youtube, presentasi Slideshare, dan lain-lainnya.

7. Kultwit memecah-mecah informasi dalam beberapa potongan tweet. Walaupun dengan adanya hashtag, apa jaminannya sang pembaca kultwit tidak akan miss the point? Lain halnya dengan blog, anda bebas menentukan format tanpa dipotong-potong untuk memastikan pembaca memahami informasi yang anda sampaikan.

8. Potongan kultwit yang di-RT oleh follower kultwit akan masuk ke timeline orang lain. Apa jaminannya orang lain tadi memerlukan informasi yang di-RT tadi? Orang lain akan bertanya, apa konteksnya? Seperti halnya kita masuk kuliah ketika kelas sudah berlangsung satu jam. Bukannya berguna, malah membingungkan dan ditakutkan intrusif dan menjadi noise bagi orang lain.

9. Twitter adalah media yang bising. Namanya aja sudah “Tweet”, atau Kicauan, setidaknya itu kata Macmillan Dictionary. Kebanyakan orang bisa memfollow 200 orang lebih. Bagaimana memastikan konteks potongan kultwit itu sampai kepada pengguna Twitter ditengah berisiknya timeline seorang pengguna Twitter? Lain halnya dengan blog. Cukup beri URL blog anda, dan dengan headline menarik, orang akan mampir ke blog itu, sooner or later.

10. Dengan batasan 140 karakter, Twitter membatasi orang menulis dengan seekspresif mungkin. Nggak mungkin kan tulisan Andreas Harsono tentang Iwan Fals ini dimasukkan ke kultwit? Nggak mungkin juga tulisan Alfian Hamzah berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” dimasukkan ke kultwit? Blog memungkinkan tulisan sekeren ini dibaca kapan saja, dan tulisan seperti ini timeless.

 

Demikianlah pandangan saya mengenai kultwit ini. Menurut pandangan saya, Twitter ini menjadi salah satu tools yang sangat berguna, namun bukan untuk kultwit. Saya anggap orang yang menggunakan Twitter untuk kultwit itu terkena sindrom “If all you have is a hammer, everything looks like a nail”. Semuanya ingin dilakukan via Twitter, sementara ternyata banyak tools lain yang lebih optimal jika anda memang mau memakainya. Dan, hei, teruslah menulis! Hanya diubah saja formatnya.

Mudah-mudahan berguna,

Wassalam,