Blogging dengan iPad Mini
Salam,
Affan masih blogging? Ternyata blogging itu hanyalah alasan untuk mengetes performa gadget/gawai baru yang ada di tangan saya.
E-book reader? Bukan sembarang e-book reader, ia adalah iPad Mini. WiFi. 32GB storage.
iPad Mini. Performa bukan keunggulan gawai ini, namun ukuran, berat serta harga menjadi keunggulannya. Kecil, bisa dipegang dengan satu tangan, ringan (tidak berat seperti iPad biasa) serta harganya berada di bawah angka 5 juta membuat gawai ini menarik untuk dipakai. Artikel ini diketik langsung pada iPad, cukup nyaman menggunakan keyboardnya.
Kalau sudah punya Android (lebih tepatnya Samsung Galaxy S3), kenapa pakai iPad Mini? Gunanya adalah untuk menjadi platform penyimpanan buku dan majalah elektronik, serta menjadi alat untuk mencoba aplikasi iOS yang tidak tersedia di Android. Koleksi buku elektronik yang cukup besar (lebih dari 10 GB) terasa mubazir apabila jarang dibaca (apalagi kalau tidak diamalkan ilmunya, akan lebih mubazir lagi), mudah-mudahan buku elektronik ini menjadi lebih mudah dibaca (dana diamalkan ilmunya) apabila dia dimasukkan ke dalam gawai yang enak dipakai seperti iPad Mini ini.
iPad Mini bukan tidak memiliki kelemahan. Jangan menggunakan iPad Mini (dan iPad pada umumnya) untuk membuka file video dengan aspek rasio 16 x 9, karena iPad Mini menggunakan aspek rasio 4 x 3, yang membuat video anda akan dimainkan di iPad dengan letterbox berwarna hitam yang menutupi 1/3 bagian atas dan bagian bawah display.
Saya membelinya di airport ketika kemarin berkunjung ke luar negeri, dan saya kurang tahu kapan persisnya ia akan tersedia di Apple Store dan toko lainnya di Indonesia. Nantikan saja kehadirannya, walaupun saya kurang tahu ia akan dijual dengan harga berapa.
Mudah-mudahan berguna,
Wassalam,
Blogging dengan Galaxy S III
Salam,

Sekian lama nggak blogging, sekarang nyoba ngeblog dengan Galaxy S III.
Yang jelas, virtual keyboard nya jauh lebih enak daripada Nexus S yang dulu, jadi lebih enak dipake ngetik. Kalau urusan kenceng, layarnya yang gede dsb, silakan baca di situs review gadgets
Wassalam,
Nasib kelas menengah pengguna Internet mobile broadband di Indonesia
Salam,
Kira-kira nasib kelas menengah pengguna Internet mobile broadband di Indonesia ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini:
- Modem CDMA EVDO USB merek Huawei EC1260 unlocked
- 3 buah kartu dari tiga provider CDMA EVDO di Indonesia: Smartfren, AHA Esia dan Telkom Flexi
Suka atau tidak suka, beginilah hal yang harus anda lakukan untuk mendapatkan layanan mobile broadband yang berkualitas. Tiga kartu, satu modem unlocked. Kira-kira langkahnya begini:
- Pastikan modem terdeteksi di laptop (hal ini jadi agak susah kalau OS anda bukan Windows 32-bit, misalnya Mac OS X, Linux atau Windows 7 64-bit). Modem bundling dari provider terlihat murah dan baik, dgn satu kekurangan: biasanya tidak tersedia driver Windows 7 64-bit. Akhirnya beli modem unlocked yang agak handal, dan pastikan drivernya tersedia di Windows 7 64-bit, kalau perlu bawa laptop anda di depan penjualnya dan coba langsung.
- Beli paket perdana untuk mendapatkan simcard nya
- Isi dengan pulsa yang kira-kira cukup dengan paket, misalnya 25 ribu atau 50 ribu.
- Konfigur paket Internet yang diinginkan sesuai dengan pulsa yang tadi diisi
- Coba dipakai dan lihat kualitas kecepatan yang didapat
- Percobaan pun harus dilakukan dalam beberapa waktu: pagi, siang, dan malam.
- Jangan lupa simpan nomor MSISDN (nomor telpon) simcard ini ke handphone anda. Karena ia hanya dipakai untuk modem, bukannya nomor telpon yang sering dipakai, dan biasanya anda acak saja memilih nomornya (buat apa punya nomor cantik di modem?) anda pasti akan lupa nomornya, padahal nomor itu anda perlukan untuk mengisi ulang pulsa.
Jadi nggak usah terpengaruh iklan di TV, tapi yang penting adalah apakah kualitas yang didapat itu memuaskan atau tidak. Justru biasanya provider yang masih beriklan di TV adalah provider yang kecepatannya lambat.
Susahnya, kadang-kadang satu kartu bagus dipakai di rumah kita, tapi nggak bagus kalau dipakai di rumah teman atau kerabat. Akhirnya ketiga simcard tadi dipegang semua, diisi pulsa dan dikonfigur paket bila perlu.
Saya di sini hanya spesifik berbicara mobile broadband CDMA EVDO, bukan 3G/HSPA. Saya cuma punya 2 kartu 3G/HSPA, satu untuk smartphone Android ICS, satu untuk BlackBerry. Saat ini paket Internet CDMA EVDO harganya lebih murah dan kualitasnya lebih baik untuk dipakai modem Internet dibandingkan 3G/HSPA. Misalnya ada yang bagus, biasanya harganya lebih mahal, dan hanya saya pakai tethering via Android ICS jika terpaksa, atau saya berkunjung ke tempat yang tidak ada sinyal CDMA EVDO.
Jadi beginilah perjuangan pengguna mobile broadband di Indonesia untuk mendapatkan akses Internet berkualitas.
Bagaimana dengan anda?
Wassalam,
World IPv6 Day @ ITB
Salam,
Hari ini tanggal 8 Juni 2011 diperingati sebagai World IPv6 Day. World IPv6 Day adalah hari dimana berbagai situs Internet ternama di dunia seperti Google, Facebook, Yahoo!, Akamai dan Limelight mengaktifkan layanan mereka melalui jaringan IPv6.
Situs-situs ini mengaktifkan layanan mereka melalui jaringan IPv6 dengan memasukkan nama situs mereka kedalam DNS AAAA record. Dengan masuknya nama situs mereka ke AAAA record, maka OS dan browser terkini akan mencoba mengakses layanan mereka menggunakan jaringan IPv6, dengan asumsi jaringan IPv6 telah tersambung antara client menuju jaringan Internet.
Gambar diatas menunjukkan beberapa situs terkemuka dunia seperti Google, Facebook dan Yahoo telah memasukkan AAAA record pada layanan nya. Website resmi ITB pun telah aktif di jaringan IPv6 sejak beberapa tahun yang lalu.
World IPv6 Day diselenggarakan dengan tujuan melakukan tes lapangan bagi jaringan Internet IPv6, dengan tujuan menemukan berbagai masalah aksesibilitas menuju situs-situs utama Internet dari berbagai jaringan di seluruh dunia yang tersambung ke Internet.
Bagi anda yang telah memiliki OS dan browser yang mendukung IPv6 serta tersambung ke jaringan IPv6, anda akan dapat mengakses situs-situs tadi tanpa masalah. Hampir semua OS (Windows, Mac OS X, Linux/UNIX) dan browser terkini (Firefox, Chrome, Safari, dsb) sudah mampu mengakses situs yang tersambung ke jaringan IPv6, namun jaringan akses Internet yang sangat beragam itu ada yang sudah tersambung ke jaringan IPv6, namun kebanyakannya belum tersambung ke jaringan IPv6.
Jika anda ingin segera tersambung ke jaringan IPv6, anda dapat menyambungkan diri dengan server tunnel broker IPv6, yang salah satunya tersedia di http://www.tunnelbroker.net yang dapat anda pakai secara gratis. Dengan tersambung ke tunnel broker ini, anda akan mendapat alamat IPv6 yang dapat anda pakai untuk mengakses situs yang tersambung ke jaringan IPv6.
Saat ini ITB ikut berpartisipasi dalam World IPv6 Day dengan menyediakan sebuah server VOD (video-on-demand) streaming yang hanya dapat diakses dari jaringan IPv6 di http://ipv6day.itb.ac.id . Video yang ditayangkan adalah rekaman Dies Natalis UKM (Unit Kebudayaan Minangkabau) ITB dan Main Gedhe Loedroek ITB yang diselenggarakan di bulan Mei yang lalu.
Situs World IPv6 Day ITB juga ditayangkan bekerjasama dengan situs World IPv6 Day AI3 dan SOI-ASIA.
Akhirul kata, Selamat berpartisipasi dalam World IPv6 Day!
Wassalam,
Blogging Lagi (Part 2): APRICOT/APAN Meeting 2011
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Akhirnya saya coba lanjutkan lagi blog ini sesuai janji saya di blog post terdahulu.
Kali ini saya akan sharing mengenai meeting APRICOT/APAN 2011 yang saya hadiri sebulan yang lalu.
Sejak tahun 2006 saya mengikuti APAN Meeting di berbagai tempat, namun APAN Meeting 2011 kali ini cukup spesial, karena diselenggarakan bersamaan dengan APRICOT Meeting di venue & negara yang sama. Kalau di tahun-tahun sebelumnya meeting APAN dan APRICOT ini diselenggarakan di negara yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula. Meeting ini memungkinkan saya bisa mengikuti sesi APRICOT dan APAN secara bersamaan. Peserta meeting APRICOT bisa nyempil ikut di sesi APAN, dan sebaliknya peserta meeting APAN bisa nyempil ikut di sesi APRICOT
O iya, meeting ini juga diselenggarakan bersamaan dengan APNIC Meeting.
Beberapa hal yang ingin saya tuliskan pada artikel kali ini adalah:
Keynote Speech oleh Vint Cerf
Meeting ini menjadi menarik karena menghadirkan Vint Cerf, yaitu salah seorang “Father of Internet” yang memberikan keynote speech pada pembukaan meeting ini.
Vint Cerf menyampaikan topik mengenai Future Internet, dengan komponen penyusunnya seperti protokol IPv6, Internationalized Domain Names (IDN), sekuriti, serta visinya mengenai Interplanetary Internet, yaitu bagaimana komunikasi ruang angkasa memerlukan protokol yang mirip seperti Internet di planet bumi saat ini.
Kesan yang saya tangkap setelah mendengarkan Keynote Speech dari beliau ini adalah visinya yang jauh kedepan mengenai teknologi Internet yang sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Selain itu, topik yang disampaikan ini walaupun futuristik namun cukup mudah dimengerti oleh orang awam. Menurut saya itu karena orang yang menjadi salah satu konseptor protokol TCP/IP ini
Video presentasi serta transkrip Keynote Speech dari Vint Cerf ini dapat dilihat di website APRICOT-APAN 2011. Jika anda berada di ITB, anda dapat mendownloadnya di FTP Server ITB.
IPv6 Transition Conference
APRICOT-APAN 2011 Meeting ini diawali dengan berita habisnya alokasi IPv4 address yang dimiliki oleh IANA setelah alokasi tadi diberikan kepada 5 organisasi RIR (Regional Internet Registry). Dengan habisnya alokasi IPv4 address ini, maka pengembangan alokasi IPv4 address akan terhenti dalam beberapa waktu kedepan, dan semua pihak di Internet, terutamanya penyedia layanan Internet diharapkan mulai melakukan transisi ke protokol IPv6 yang menyediakan alokasi address yang sangat luas.
Topik transisi ini dibahas khusus pada APRICOT-APAN 2011 ini dengan mengadakan satu sesi diskusi khusus bernama IPv6 Transition Conference. Saya turut menghadiri sesi ini, walaupun hanya separuh waktu karena saya harus berpindah ke sesi lainnya.
Sesi ini membahas pengalaman transisi IPv6 oleh pemain-pemain besar Internet, seperti Google, Facebook, Yahoo, Cisco, Huawei dan sebagainya. Vint Cerf pun turut hadir memberikan kata sambutan pembuka. Para pemain besar ini mengemukakan bagaimana metoda transisi IPv6 yang mereka lakukan, yang sedemikian rupa dilakukan agar tidak mengganggu layanan yang mereka sediakan melalui jaringan IPv4 yang telah ada.
Video presentasi serta slide presentasi dari setiap pembicara dapat anda akses di situs IPv6 Transition Conference.
Software Defined Network
Salah satu topik menarik yang dibahas di APRICOT-APAN 2011 adalah topik Software-Defined Network yang masuk ke dalam workgroup Future Internet di APAN.
Apa itu Software-Defined Network? Software-Defined Network adalah satu jaringan komputer yang sangat fleksibel karena ia dikonfigurasi dan dikendalikan melalui software terpusat.
Jika definisi ini belum kena, coba bayangkan satu jaringan dimana semua router & switch menerima satu konfigurasi & network policy dari satu sistem terpusat tanpa setiap router & switch tadi perlu dikonfigurasi satu-persatu.
Konsep ini sebenarnya sudah mulai diadopsi oleh vendor Wireless LAN yang menawarkan pengendalian access point Wifi terpusat dari sebuah controller, dimana semua access point Wifi tadi menerima konfigurasi (SSID, channel, security setting) dari controller tadi.
Teknologi SDN ini mulai dikembangkan oleh Stanford University yang mengeluarkan teknologi OpenFlow. Stanford University juga mengajak berbagai institusi, seperti universitas di AS dan di luar AS (Jepang, Hong Kong, Korea) serta beberapa vendor perangkat jaringan untuk mengembangkan teknologi ini.
Teknologi OpenFlow ini memiliki dua komponen, yaitu OpenFlow Controller dan OpenFlow Switch. OpenFlow Controller akan mengirimkan konfigurasi policy yang diinginkan kepada OpenFlow Switch. OpenFlow Switch menerima konfigurasi untuk melewatkan flow paket tertentu. Flow paket yang dilewatkan ini sangat fleksibel, mulai dari konfigurasi layer 2 (VLAN ID, MAC address), layer 3 (IP address), bahkan sampai layer 4 (TCP/UDP port). OpenFlow switch akan menerima instruksi untuk meneruskan tipe flow paket ini ke port interface nya.
Kesimpulan
Demikian beberapa hal yang bisa saya sharing di blog ini. Beberapa topik akan saya tulis secara terpisah untuk memberikan detail yang lebih baik.
Mudah-mudahan berguna,
Wassalam,
10 alasan kenapa kultwit harusnya dijadikan blog saja
Salam,
Saya beberapa kali diforwardkan potongan kultwit (kuliah di Twitter) milik orang lain di timeline Twitter saya oleh beberapa teman yang saya follow. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada orang-orang di Twitter yang hobi bikin kultwit dan kepada teman-teman yang saya follow di Twitter, saya akan tuliskan 10 alasan kenapa kultwit itu sebaiknya dijadikan blog saja:
1. Dengan jumlah karakter hanya 140, dikurangi dengan nama account Twitter dan hashtag, informasi yang anda kemukakan akan sangat terbatas. Platform blog tidak dibatasi karakter.
2. Informasi di Twitter tidak diarchive oleh Twitter melainkan hanya 2 minggu saja. Bagaimana jika informasi yang di-kultwit tadi diperlukan orang lain di waktu yang akan datang? Lain halnya dengan blog (misal Blogspot.com, WordPress.com) yang terarchive untuk waktu yang cukup lama. Anda dapat memiliki portfolio tulisan yang lebih lengkap dibandingkan ngultwit.
3. Apakah Twitter ada SEO nya? Apakah kultwit punya SEO nya? Apakah hashtag itu sebuah SEO? Saya belum tahu bagaimana informasi anda ini teroptimasi dengan baik di search engine. Lain halnya dengan blog yang sudah teroptimasi dengan long-readable URL yang mudah dicari di search engine.
4. Bagaimana kalau kultwit tadi sebegitu bagusnya, sehingga ia dijadikan referensi oleh beberapa orang? Bagaimana memasukkan kultwit anda ke blog orang lain? Bagaimana memasukkan kultwit tadi sebagai referensi tugas akhir, misalnya? Anda tidak akan punya masalah seperti ini jika kultwit anda dimasukkan ke dalam blog.
5. Kultwit tidak dapat diupdate, diperbarui jika ada informasi yang lebih baru kecuali dengan cara bikin kultwit lagi. Dengan konsep penomoran seperti 1, 2, 3 dan seterusnya kepada kultwit ini, bagaimana kalau ada materi yg perlu disisipkan diantara nomor 2 dan 3, misalnya? Jadi ingat programming BASIC yang menggunakan penomoran 10, 20, 30 untuk menyediakan ruang terhadap penyisipan kode diantara kode existing
Blog lebih manusiawi, dengan menyediakan format seperti strikethrough atau kita bisa tambahkan informasinya tanpa mengganti URL informasi di blog.
6. Twitter tidak mendukung masuknya rich media (gambar, audio/video) untuk mendukung pendapat anda. Adanya URL shortener hanya akan mengurangi jumlah karakter informasi yang ingin anda sampaikan. Lain halnya dengan blog yang sangat mudah melakukan embed rich media seperti gambar, video Youtube, presentasi Slideshare, dan lain-lainnya.
7. Kultwit memecah-mecah informasi dalam beberapa potongan tweet. Walaupun dengan adanya hashtag, apa jaminannya sang pembaca kultwit tidak akan miss the point? Lain halnya dengan blog, anda bebas menentukan format tanpa dipotong-potong untuk memastikan pembaca memahami informasi yang anda sampaikan.
8. Potongan kultwit yang di-RT oleh follower kultwit akan masuk ke timeline orang lain. Apa jaminannya orang lain tadi memerlukan informasi yang di-RT tadi? Orang lain akan bertanya, apa konteksnya? Seperti halnya kita masuk kuliah ketika kelas sudah berlangsung satu jam. Bukannya berguna, malah membingungkan dan ditakutkan intrusif dan menjadi noise bagi orang lain.
9. Twitter adalah media yang bising. Namanya aja sudah “Tweet”, atau Kicauan, setidaknya itu kata Macmillan Dictionary. Kebanyakan orang bisa memfollow 200 orang lebih. Bagaimana memastikan konteks potongan kultwit itu sampai kepada pengguna Twitter ditengah berisiknya timeline seorang pengguna Twitter? Lain halnya dengan blog. Cukup beri URL blog anda, dan dengan headline menarik, orang akan mampir ke blog itu, sooner or later.
10. Dengan batasan 140 karakter, Twitter membatasi orang menulis dengan seekspresif mungkin. Nggak mungkin kan tulisan Andreas Harsono tentang Iwan Fals ini dimasukkan ke kultwit? Nggak mungkin juga tulisan Alfian Hamzah berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” dimasukkan ke kultwit? Blog memungkinkan tulisan sekeren ini dibaca kapan saja, dan tulisan seperti ini timeless.
Demikianlah pandangan saya mengenai kultwit ini. Menurut pandangan saya, Twitter ini menjadi salah satu tools yang sangat berguna, namun bukan untuk kultwit. Saya anggap orang yang menggunakan Twitter untuk kultwit itu terkena sindrom “If all you have is a hammer, everything looks like a nail”. Semuanya ingin dilakukan via Twitter, sementara ternyata banyak tools lain yang lebih optimal jika anda memang mau memakainya. Dan, hei, teruslah menulis! Hanya diubah saja formatnya.
Mudah-mudahan berguna,
Wassalam,
Blogging Lagi (Part 1): Blackberry
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Blog is dead, right?
Yah maklumlah, saat ini kita terlalu dimanjakan dengan teknologi mobile Internet yang serba instan. Lebih mudah ngoceh pakai Facebook dan Twitter menggunakan BlackBerry Internet Services daripada ngeblog, walaupun saat ini sudah ada WordPress for BlackBerry.
Video dibawah ini menunjukkan betapa repotnya kalau BlackBerry dan Apple itu bukan hanya diartikan sebagai buah-buahan ![]()
Ya begitulah, setelah lebih kurang menjadi pengguna BlackBerry selama 1 tahun (pertama pakai Gemini, lalu diganti ke Onyx), sudah lama sekali saya tidak menyentuh aplikasi Windows Live Writer untuk ngeblog.
Well, blogs is not dead entirely. Saya akhirnya mencoba ngeblog lagi (themes blog ini saya ganti agar segar), dan hanya akan merekap kegiatan-kegiatan saya tempo hari, dan akan saya tuliskan dalam beberapa artikel bersambung.
BlackBerry FTW?
Setelah terlalu banyak orang yang komentar di artikel blog saya tentang Nokia E63, 2,5 tahun berlalu dan saya katakan era Nokia sudah berakhir. Nokia gagal membunuh BlackBerry, dan terpaksa berakhir dengan bekerjasama dengan Microsoft untuk memasukkan platform Windows Phone 7 ke dalam handphone Nokia.
Bagaimanapun, handphone Nokia tetap enak dipakai untuk voice call dan SMS reguler. Saya juga belum menemukan aplikasi SSH client seperti PocketPuTTY di BlackBerry. Well, ada aplikasi BBSSH yang saya coba, namun nampaknya tidak dapat dipakai oleh BIS connection dari XL. Kalau dipakai dari Wifi sih normal aja.
Mengapa BlackBerry? Somehow di awal tahun 2010, Nokia Messaging dan paket Telkomsel Flash di KartuHalo saya tidak get along very well. Karena saya sangat bergantung pada layanan push email ini (dan teman saya di Telkomsel pun berkata, “Sudahlah, pakai BlackBerry aja!”), maka akhirnya saya pakai BlackBerry.
Push email memang menjadi kekuatan dari BlackBerry. Kencang dan handal, dapat dipakai walaupun network GPRS di Indonesia kebanyakannya berantakan. Setup nya mudah, kirim dan reply attachment tidak ada masalah. Setelah itu barulah saya ketagihan dengan racun gadget ini: Facebook & Twitter Notification. Itulah fitur yang tidak ada di Nokia E63. Notification FB dan Twitter membuat kita mendapatkan feedback segera dari ocehan kita.
BlackBerry juga memiliki fitur “pemaksaan sosial” dengan aplikasi bernama BlackBerry Messenger (BBM). Aplikasi ini mampu melakukan “pemaksaan sosial” dari pemilik BB kepada rekan-rekannya yang tidak memiliki BB untuk segera memiliki BB. Salah satu korbannya adalah adik saya
. BBM, yang boleh dikatakan sebagai flat-rate-advanced-SMS, membuat pengguna BB kesal kalau masih harus meng-SMS orang .
BB juga menjadi simbol status, alat kesetaraan, atau apalah namanya di kalangan bisnis. Kalau ketemu rekan bisnis baru, kata-kata “Eh, pin BB berapa?” merupakan ice breaker yang mudah diucapkan.
Pendek kata, BB dapat dikatakan merasuki kehidupan orang-orang middle/upper-class di Indonesia. Walaupun ada juga BB-hater yang lebih suka pakai iPhone dan HP Android-based, namun ini jumlahnya tidak signifikan (ya saya sok tahu aja sih), tapi untuk mudahnya, silakan saksikan video di bawah ini:
Saya barusan lihat juga, nampaknya editor Crackberry.com sempat jalan-jalan ke Mal Mangga Dua dan Mal Ambassador di Jakarta, dan ini video yg dia katakan “BlackBerry Craziness” ![]()
Well, enjoy! Gadget ini hanyalah tool, yang penting adalah apa kerjaan berguna yang bisa kita selesaikan dengan tool ini. Dia perlu, tapi bukan yang utama.
Ok, coming up next:
APRICOT/APAN 2011
Tanggal 20 s/d 24 Februari kemarin saya dan mas Basuki Suhardiman berkesempatan datang ke APRICOT/APAN 2011.
Launching Blog ITB
ITB akhirnya meluncurkan layanan Blog ITB.
Sementara itu, saya juga akan tuliskan rencana-rencana saya kedepan:
Ngurusin Blog?
Nampaknya Blog ITB ini perlu di-babysit dan dilengkapi fasilitasnya.
Pingin bikin buku?
Apakah saya perlu bikin buku IT lagi?
Wassalam,







