10 alasan kenapa kultwit harusnya dijadikan blog saja

Salam,

twitter

 

Saya beberapa kali diforwardkan potongan kultwit (kuliah di Twitter) milik orang lain di timeline Twitter saya oleh beberapa teman yang saya follow. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada orang-orang di Twitter yang hobi bikin kultwit dan kepada teman-teman yang saya follow di Twitter, saya akan tuliskan 10 alasan kenapa kultwit itu sebaiknya dijadikan blog saja:

 

1. Dengan jumlah karakter hanya 140, dikurangi dengan nama account Twitter dan hashtag, informasi yang anda kemukakan akan sangat terbatas. Platform blog tidak dibatasi karakter.

2. Informasi di Twitter tidak diarchive oleh Twitter melainkan hanya 2 minggu saja. Bagaimana jika informasi yang di-kultwit tadi diperlukan orang lain di waktu yang akan datang?  Lain halnya dengan blog (misal Blogspot.com, WordPress.com) yang terarchive untuk waktu yang cukup lama. Anda dapat memiliki portfolio tulisan yang lebih lengkap dibandingkan ngultwit.

3. Apakah Twitter ada SEO nya? Apakah kultwit punya SEO nya? Apakah hashtag itu sebuah SEO? Saya belum tahu bagaimana informasi anda ini teroptimasi dengan baik di search engine. Lain halnya dengan blog yang sudah teroptimasi dengan long-readable URL yang mudah dicari di search engine.

4. Bagaimana kalau kultwit tadi sebegitu bagusnya, sehingga ia dijadikan referensi oleh beberapa orang? Bagaimana memasukkan kultwit anda ke blog orang lain? Bagaimana memasukkan kultwit tadi sebagai referensi tugas akhir, misalnya? Anda tidak akan punya masalah seperti ini jika kultwit anda dimasukkan ke dalam blog.

5. Kultwit tidak dapat diupdate, diperbarui jika ada informasi yang lebih baru kecuali dengan cara bikin kultwit lagi. Dengan konsep penomoran seperti 1, 2, 3 dan seterusnya kepada kultwit ini, bagaimana kalau ada materi yg perlu disisipkan diantara nomor 2 dan 3, misalnya? Jadi ingat programming BASIC yang menggunakan penomoran 10, 20, 30 untuk menyediakan ruang terhadap penyisipan kode diantara kode existing 🙂 Blog lebih manusiawi, dengan menyediakan format seperti strikethrough atau kita bisa tambahkan informasinya tanpa mengganti URL informasi di blog.

6. Twitter tidak mendukung masuknya rich media (gambar, audio/video) untuk mendukung pendapat anda. Adanya URL shortener hanya akan mengurangi jumlah karakter informasi yang ingin anda sampaikan. Lain halnya dengan blog yang sangat mudah melakukan embed rich media seperti gambar, video Youtube, presentasi Slideshare, dan lain-lainnya.

7. Kultwit memecah-mecah informasi dalam beberapa potongan tweet. Walaupun dengan adanya hashtag, apa jaminannya sang pembaca kultwit tidak akan miss the point? Lain halnya dengan blog, anda bebas menentukan format tanpa dipotong-potong untuk memastikan pembaca memahami informasi yang anda sampaikan.

8. Potongan kultwit yang di-RT oleh follower kultwit akan masuk ke timeline orang lain. Apa jaminannya orang lain tadi memerlukan informasi yang di-RT tadi? Orang lain akan bertanya, apa konteksnya? Seperti halnya kita masuk kuliah ketika kelas sudah berlangsung satu jam. Bukannya berguna, malah membingungkan dan ditakutkan intrusif dan menjadi noise bagi orang lain.

9. Twitter adalah media yang bising. Namanya aja sudah “Tweet”, atau Kicauan, setidaknya itu kata Macmillan Dictionary. Kebanyakan orang bisa memfollow 200 orang lebih. Bagaimana memastikan konteks potongan kultwit itu sampai kepada pengguna Twitter ditengah berisiknya timeline seorang pengguna Twitter? Lain halnya dengan blog. Cukup beri URL blog anda, dan dengan headline menarik, orang akan mampir ke blog itu, sooner or later.

10. Dengan batasan 140 karakter, Twitter membatasi orang menulis dengan seekspresif mungkin. Nggak mungkin kan tulisan Andreas Harsono tentang Iwan Fals ini dimasukkan ke kultwit? Nggak mungkin juga tulisan Alfian Hamzah berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” dimasukkan ke kultwit? Blog memungkinkan tulisan sekeren ini dibaca kapan saja, dan tulisan seperti ini timeless.

 

Demikianlah pandangan saya mengenai kultwit ini. Menurut pandangan saya, Twitter ini menjadi salah satu tools yang sangat berguna, namun bukan untuk kultwit. Saya anggap orang yang menggunakan Twitter untuk kultwit itu terkena sindrom “If all you have is a hammer, everything looks like a nail”. Semuanya ingin dilakukan via Twitter, sementara ternyata banyak tools lain yang lebih optimal jika anda memang mau memakainya. Dan, hei, teruslah menulis! Hanya diubah saja formatnya.

Mudah-mudahan berguna,

Wassalam,

Iklan

Memenangkan Persaingan Antar Kampus di Indonesia

Salam,

Saya saat ini bekerja di Institut Teknologi Bandung. Walaupun secara spesifik saya bekerja di bidang IT, namun tidak bisa dihindari bahwa saya sering mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi di tempat saya bekerja. Terutama hal yang cukup menarik, yaitu mengenai persaingan antar kampus.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa persaingan antar kampus elit di Indonesia itu terjadi. Mulai dari persaingan kualitas calon mahasiswa yang masuk, persaingan kualitas mahasiswa yang diluluskan, sampai diciptakan berbagai ajang perlombaan yang dipakai untuk meneguhkan dominasi suatu kampus di bidang tertentu.

Sebagai kampus yang (katanya) menjadi tempat masuknya “putra-putri terbaik bangsa”, sudah umum bahwa kampus lain berusaha mengalahkan dominasi kampus ITB dalam berbagai hal. Mulai dari diciptakannya sistem “rangking” oleh berbagai pihak, mulai dari standar ranking dari luar negeri seperti Webometrics, THES, 4ICU, sampai berbagai perlombaan seperti lomba Robot KRCI, Telkom Smart Campus, dan sebagainya.

Saya tidak memiliki kapasitas menilai bahwa ITB itu baik dan kampus lainnya itu jelek, atau sebaliknya, bahwa ITB mutunya menurun dan dikalahkan oleh kampus lain. Saya tidak dalam kapasitas menilai bahwa (biasanya) ITB sangat baik dalam berteori namun rontok kalau diajak ikut perlombaan. Artikel ini tidak bermaksud seperti itu. Yang ingin saya katakan adalah bagaimana semua kampus mampu memenangkan persaingan dengan kampus lain.

Saya juga tidak memiliki kapasitas men-judge bahwa standar ranking dari luar (Webometrics, THES, 4ICU, dsb) itu akurat atau tidak akurat, namun penggunaan standar seperti ini membuat keunggulan sebuah universitas hanya dikecilkan dengan sebuah standar yang kurang tepat. Analoginya, apakah tepat membandingkan lebih lezat mana buah semangka dengan rambutan? buah jeruk atau anggur? buah duku ataukah durian?

Maka dari itu, saya mengusulkan sebuah mekanisme yang bisa dipakai untuk membuat persaingan antar universitas ini menjadi makin menarik, yaitu dengan mekanisme "Portofolio Keunggulan”.

Boleh dikatakan sistem ini dijalankan seperti ini: Ketika kita mendengar kata “perlombaan”, kita biasanya mengasosiasikan kata tersebut dengan kata “menang” dan “kalah”. Kalau satu pihak “menang”, maka pihak lainnya “kalah”. Bagaimana kalau saya katakan begini: ada sebuah perlombaan dimana semua pesertanya bisa “menang” tanpa ada yang “kalah”? 

Caranya cukup mudah:

  1. Tentukan kompetensi yang paling anda kuasai dari lembaga pendidikan anda
  2. Analisa kompetitor anda sesama lembaga pendidikan, dan temukan apa hal yang TIDAK mereka kuasai
  3. Temukan irisan dari poin 1 dan 2. Itulah kompetensi yang harus anda kuasai, yang harus anda gembar-gemborkan, yang menjadi value proposition dari lembaga pendidikan anda.

Kira-kira cara tersebut dapat saya gambarkan seperti gambar di bawah ini.

Irisan Kompetensi

Yang perlu dilakukan sebuah universitas adalah fokus di wilayah merah itu. Anda tidak perlu mengurusi wilayah kuning. Mengapa? karena konsentrasi di wilayah merah itu membuat kemungkinan keunggulan anda menjadi lebih tinggi.

Kalau seandainya anda masih berkonsentrasi di wilayah kuning, maka ada kemungkinan kompetitor anda akan berinovasi dan anda tertinggal di belakang. Itu bukan mustahil. Apalagi kalau anda memilih terjun di gelanggang yang sadar atau tidak sadar “dibuat” oleh kompetitor. Anda masuk ke wilayah merah kompetitor, dan anda sudah jelas akan kalah.

Saya coba ambil contoh kasus di ITB. ITB ingin mengikuti lomba robot. Saya tanyakan satu hal: apakah teknologi robot itu berada di wilayah merah ITB? Ataukah itu berada di wilayah merah universitas lain? Mohon pastikan hal itu, sebelum ITB dikatakan tidak unggul hanya gara-gara ITB bermain di zona merah milik kompetitor. Jangan merasa mentang-mentang menganggap diri kita paling pintar, lalu kita jatuh ke zona merah kompetitor, dan anda akan kalah.

Saya kembali ambil contoh kasus di ITB. Apa yang harusnya masuk zona merah di ITB? saya pikir poin di bawah ini memungkinkan:

  1. Astronomi. Departemen Astronomi hanya ada di ITB. Jelas-jelas sudah dari tahun 1920 (atau lebih muda?) Teleskop Carl Zeiss sudah ada di Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung. Observatorium Bosscha juga mampu melihat ke langit selatan, sebuah akses ke langit yang tidak mampu dilihat oleh ahli astronomi dari Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, karena merak hanya mampu melihat langit utara. Kompetitor kelas dunia pun tidak mampu melakukan apa yang dilakukan astronom ITB yang tinggal di Bosscha. Jelas-jelas ini adalah WIN.
  2. Teknik Penerbangan. Setahu saya Departemen Penerbangan hanya ada di ITB. Hanya ITB universitas yang punya pesawat tempur MIG-21 di laboratoriumnya. Pabrik pesawat PT-DI juga ada di Bandung. PT-DI bukan lembaga main-main, karena mampu meluncurkan N250 yang tidak mampu diluncurkan oleh negara Asean lainnya. Banyak lulusannya yang bekerja di industri penerbangan dunia seperti Airbus, Boeing, dan sebagainya. Universitas lain juga tidak memiliki kompetensi seperti ini. Jelas-jelas ini adalah WIN.
  3. Internet/Internetworking Research. ITB sudah berpartisipasi menjadi pionir perkembangan jaringan Internet di Indonesia di tahun 1995. Pengalaman network operation yang telah ITB miliki sejak tersambung dengan jaringan AI3/SOI-ASIA (Asian Internet Interconnection Initiatives/School of Internet-ASIA) dengan pengalamannya belasan tahun sampai saat ini membuat ITB memiliki kompetensi yang tidak dimiliki lembaga lain. WIN.
  4. Dan masih banyak lagi. Itulah tugas lembaga pendidikan untuk menemukan irisan merah mereka diatas.

Mestinya ITB sudah harus lebih berani untuk menonjolkan departemen/prodi unggulannya, dan memaksa prodi yang belum mampu menemukan wilayah merah nya untuk segera menemukan wilayah merah milik mereka, sehingga ITB memiliki portofolio keunggulan yang lengkap.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau saat ini bidang keunggulan kita berada di zona kuning, dan bagaimana caranya keunggulan ini digeser kedalam zona merah kita? Misalnya kita tetap mau bermain robot (yang banyak dikuasai orang lain), tapi masuk ke zona merah, bagaimana caranya?

Caranya adalah melengkapi bidang keunggulan yang ada saat ini dengan bidang keunggulan baru yang berada di zona merah. Sudah jamak saat ini pengembangan teknologi memerlukan kerjasama multidisiplin. Kerjasama multidisiplin akan membuat terobosan yang berguna dengan efek yang besar.

Contohnya adalah teknologi robot yang saat ini banyak dikuasai pihak lain ini bisa digeser ke zona merah dengan menambahkan penelitian yang orang lain belum kuasai, misalnya dengan menambahkan teknologi seperti dibawah ini:

  1. Membuat robot terbang berupa UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Robot yang berjalan sudah biasa, bagaimana dengan robot yang bisa terbang? Ini sudah dikembangkan oleh Centrums ITB (The Center for Unmanned System Studies).
  2. UAV yang mampu bergerak secara autonomous menggunakan artificial intelligence. Bagaimana dua atau tiga buah UAV dapat bergerak bersama-sama tanpa tabrakan?
  3. Teknologi komunikasi antar robot melalui jaringan Internet Protokol IPv6 melalui wifi wireless mesh. Ini membuat beberapa robot dapat berkomunikasi serta mengirimkan data seperti koordinat GPS dan stream audio/video melalui berbagai macam peralatan sensor melalui protokol 6LowPAN (1,2).

Hanya dengan menambahkan teknologi yang saya sebutkan diatas, anda sudah memasukkan robot yang anda kuasai dalam zona merah. Kompetitor harus berjungkirbalik kalau mau mengikuti apa yang anda lakukan. Inilah saran saya kepada kawan-kawan di ITB yang masih mau bermain robot.

Selain itu, bidang keunggulan yang kita miliki dapat dimasukkan ke zona merah dengan melakukan interaksi dengan bidang keilmuan lainnya, yang sekilas terlihat tidak berhubungan.

Contohnya adalah keunggulan teman-teman Astronomi ITB yang menguasai teknologi video streaming melalui IP network yang dipakai untuk melakukan pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan suci Ramadhan dan 1 Syawal. Dengan berkoordinasi dengan Departemen Agama dan Kominfo, hasil pengamatan dari 7 lokasi titik pengamatan di Indonesia bisa ditayangkan bersama-sama dalam satu display di kantor Departemen Agama pusat, dan memudahkan para ulama untuk memutuskan awal bulan suci Ramadhan dan 1 Syawal.

Contoh lainnya adalah penggunaan teknologi jaringan yang dipakai oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk menerima gambar pengamatan ekspedisi pengamatan laut dalam Okeanos dari Amerika Serikat yang mengamati lantai laut bagian timur Indonesia. Dengan teknologi IP Multicast melalui jaringan TEIN3, para ahli spesies laut dari DKP dan ITB dapat melihat berbagai spesies di kedalaman 3000 meter yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Contoh diatas menunjukkan suatu bidang keunggulan yang dapat dipakai untuk membantu bidang keunggulan yang lain menyebabkan lembaga tadi memiliki keunggulan baru, bukan saja sekedar unggul, namun keunggulan yang memberikan manfaat.

Bagaimana dengan universitas lain? Mereka pun mampu melakukan hal yang sama. Saya ambil contoh seperti di bawah ini:

  1. Kedokteran. Di ITB tidak ada fakultas kedokteran. Keilmuan kedokteran tersebar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia, yang memiliki kasus-kasus spesifik yang tidak dialami negara lain, mengingat negara Indonesia berada di daerah tropis, menyebabkan kondisi kesehatan orang Indonesia berbeda daripada negara maju di daerah subtropis. Ini saya alami ketika berinteraksi dengan teman-teman dari Universitas Indonesia yang berpartisipasi dalam Medical Working Group (WG) di APAN (Asia Pacific Advanced Network). Mereka akhirnya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki ITB.
  2. Teknik Perkapalan. Departemen Teknik Perkapalan hanya ada di ITS. Pabrik galangan kapal PT PAL ada di Surabaya. Tentu saja tidak mungkin ITB mau bermain di bidang perkapalan, karena kota Bandung ada di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut. Kecuali anda mau bikin kapal Nabi Nuh, atau anda mau bikin kapal TERBANG (itu masuknya ke Teknik Penerbangan ITB).

Inti dari tulisan ini adalah seandainya semua universitas mampu menemukan wilayah merah nya masing-masing, maka seluruh universitas mampu berjalan bersama-sama, menawarkan keunggulan nya masing-masing, berkontribusi memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, bukannya hanya meributkan sebuah angka abstrak berupa rangking. Tentunya negara akan sangat berterimakasih kepada lembaga pendidikan tinggi yang mampu memunculkan berbagai keunggulan yang akan berguna bagi kemajuan bangsa.

Begitulah yang saya amati selama perjalanan saya berinteraksi dengan kolega dari perguruan tinggi nasional maupun luar negeri. Mungkin ada yang kurang tepat dalam pengamatan saya, maklum tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah, namun merupakan pengamatan empiris saya pribadi.

Mudah-mudahan berguna,

Wassalam,

Poster Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad Rasulullah SAW, saya membantu para pecinta & perindu Rasulullah SAW dengan mengedarkan poster sejarah kehidupan Rasulullah SAW.

Gambar posternya dapat dilihat di bawah ini. Ukuran posternya 55 cm x 85 cm (kira-kira sebesar A1). Gambar utama berisi peristiwa di sepanjang kehidupan baginda Rasulullah SAW. Saya baru nyadar bahwa baginda Rasulullah SAW berumur 54 tahun ketika memimpin perang Badar bersama 313 sahabatnya melawan 1000 kafir Quraisy.

Poster RSAW 2010

Ada yang berminat? Barangnya ada di ITB Bandung. Jika berkenan, silakan hubungi saya melalui comment. Harganya 35 ribu rupiah, namun dapat dinego.

Terima kasih atas perhatian anda,

Wassalam,

Udah ngapain aja ya selama 32 tahun?

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Beberapa waktu yang lalu saya membeli buku berjudul “Api Sejarah” karangan Prof. Mansyur Suryanegara. Bukunya gilak keren banget. Bersampul hitam dengan tagline “Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam menegakkan NKRI”, buku ini menyajikan fakta-fakta yang jarang kita dengar.

apisejarah 

Caption: Prof. Mansyur Suryanegara

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah ketika saya membaca halaman 515 yang memuat sub-bab “Kepeloporan Pemuda Pemudi Islam”. Saya ringkaskan fakta yang menarik yang saya baca di buku tadi:

  • H. Oemar Said Tjokroaminoto itu meneruskan kepemimpinan Sjarikat Islam dari Hadji Samanhoedi ketika beliau berusia 30 tahun pada tahun 1912
  • H. Agoes Salim mulai aktif dalam organisasi Sjarikat Islam ketika berusia 28 tahun
  • Siapa yang tidak kenal Ir. Soekarno, anak hasil binaan H. Oemar Said Tjokroaminoto. Beliau mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia di usia 26 tahun
  • Mohammad Hatta ketika ditangkap di Den Haag sebagai aktivis Perhimpoenan Indonesia, berusia 25 tahun
  • R.A. Kartini mulai surat-suratan dengan Ny. Abendanon ketika berusia 20 tahun, yang kumpulan suratnya itu dijadikan buku oleh Ny. Abendanon berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Masalahnya adalah, 32  tahun yang lalu saya dilahirkan ke dunia oleh orangtua saya. Sudah 32 tahun saya dibagi rizki di Bumi Tuhan ini. Kalau saya mau melakukan benchmarking pencapaian saya dengan tokoh-tokoh diatas tadi, saya ini sudah ngapain aja ya?

Jadi untuk semua orang yang telah memberikan ucapan selamat dan doa kepada saya di hari jadi saya yang ke-32 ini, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, mudah-mudahan semua orang yang saya kenal mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayang Tuhan, amin.

Wassalam,

Admin Juga Manusia

assalamu ‘alaikum wr.wb.

Sudah lama saya nggak ngeblog lagi, saya kira saat ini waktu yang cukup baik untuk mulai menulis lagi, maklum kebanyakan nyampah di Facebook dan Plurk 😀 Omong-omong, anda sadar nggak, kalau anda semua itu bisa nyampah di Facebook, Plurk dan Twitter itu karena jasa seseorang yang namanya Admin ?

 

Admin Juga Manusia. Itulah titel blog pribadi saya. Saya ambil dari judul lagu group “Seurieus” yang judulnya Rocker Juga Manusia. Dulu saya posisikan menjadi blog tempat saya sharing hal-hal yang menarik yang saya ketahui, kebanyakannya tentang pekerjaan yang saya tekuni saat ini, yaitu Network & System Administrator di sebuah Institut Teknologi di kota Bandung, Indonesia.

 

Kenapa kok pilih titel “Admin Juga Manusia” ? Karena saya suka dengan pekerjaan saya. Saya suka mengurus sistem IT ini. Saya suka menjadi orang yang memiliki hobi tinkering  dengan sebuah sistem kompleks bernama Internet, yang terdiri dari berbagai macam komputer yang dihubungkan dengan berbagai macam jaringan komputer, yang kesemuanya berbicara sebuah bahasa yang sama, yaitu TCP/IP, dan dengan itulah berbagai aplikasi yang berguna (atau tidak berguna) bagi manusia dapat berjalan diatas jaringan ini. Anda bisa baca blog saya saat ini, anda bisa baca email, anda bisa apdet status di Facebook, ngetwit, ngeplurk, anda bisa lihat video bodor di Youtube, sampai Saykoji bisa bikin lagu “Online” yang lagi ngetop itu. Dan saya suka pekerjaan ini, karena hobi saya bisa saya konversi untuk memberikan manfaat kepada sesama manusia.

 

Saya mengenal Internet pada tahun 1995, ketika saya pertama kali menonton pameran komputer di Jakarta Convention Center, saya pertama kali membuka “Internet” melalui sebuah komputer Sun Workstation yang menjadi display stan salah satu ISP pertama di Indonesia, yaitu Radnet, dan saya masih ingat dua buah website yang saya buka melalui browser Netscape Navigator 1.0 itu, yaitu www.whitehouse.gov dan www.republika.co.id. Pada waktu itu saya sudah mendengar apa itu Internet dari kakak saya yang sudah kuliah di ITB, dan saya diberi kopi print kertas continuous form dari artikel Terrorist Handbook di Internet 😀 Lalu di tahun 1996 sebelum saya masuk ITB, saya pertama kali bertemu & bersalaman dengan Pak Onno W. Purbo di sebuah acara pengenalan teknologi IT di Jakarta.

 

Setelah saya masuk ITB, saya mulai diajak oleh kakak saya untuk ikut dalam unit kegiatan mahasiswa ITB yang bernama Amateur Radio Club (ARC) ITB. Disitulah saya mulai berkenalan dengan teknologi Internet di awal kemunculannya. Pada waktu itu Microsoft Windows for Workgroup 3.11 masih harus diinstall aplikasi bernama WinSock agar ia dapat tersambung ke jaringan TCP/IP. Pada waktu itu kata-kata “LAN” bersinonim dengan Novell Netware 3.11. Semua orang yang ikut ARC dan yang mau menjadi admin network harus memiliki kemampuan mengecek impedansi kabel RG58 50 ohm dengan multimeter dan mampu menyolder konektor BNC dan N-Connector. Konsep driver Plug-and-Play di Windows baru dikenal di Windows 95, dan kebanyakan ethernet card harus di-set IRQ dan IO Address nya terlebih dahulu secara manual.

 

Karena namanya Amateur Radio Club ITB, saya banyak belajar teknologi Amateur Radio dengan kitab sucinya yang bernama ARRL Handbook. Pada waktu itu saya diperkenalkan dengan teknologi paket radio dengan peralatan PC sederhana, memanfaatkan sebuah aplikasi bernama KA9Q NOS (Network Operating System). Aplikasi tadi hanya berukuran kurang dari 640kBytes, muat di floppy disk 5.25”. Tapi jangan remehkan kemampuannya. Dengan memanfaatkan ethernet card ISA yang tersambung ke LAN, dan modem radio paket TNC dengan protokol AX.25 (Amateur X.25) yang disambungkan ke radio komunikasi HT 144MHz, PC tadi sudah dapat menjadi TCP/IP gateway yang mampu mengirimkan email antara  dua jaringan tadi. Luar biasa, bukan ?

 

Maju kedepan 13 tahun kemudian, ternyata semua sudah berubah. Internet menjadi kebutuhan pokok. Di akhir video clip Saykoji – Online, secara bercanda dikatakan, 8 dari 10 remaja Indonesia lebih memilih Internet daripada nasi. Sudah jamak sekali penggunaan handphone dengan GPRS (General Packet Radio System, yang cikal bakalnya berasal dari AX.25 yang dulu saya pakai itu), yang memungkinkan semua orang bisa mengupdate status mereka ke Facebook melalui berbagai handphone, mulai dari Nexianberry sampai dengan Blackberry yang mahal itu. Modem 3G dijual seperti kacang goreng, tanpa pernah melihat bahwa penambahan frekuensi 3G tidak mampu mengikuti pertambahan pelanggannya. Hampir semua rumah kost sudah harus memasang line Telkom Speedy kalau masih mau menerima pelanggan yang butuh Internetan sambil selonjoran di kasur. Orang lebih rela mati listrik daripada mati Internet, sebab kalau mati listrik, mereka sekalian aja nggak bisa kerja, tapi kalau mati Internet, mereka tetap harus bekerja DAN tidak bisa diselingi membuka Facebook 🙂

 

Sayangnya, di dalam perjalanannya seperti ini, pengguna Internet seringkali lupa siapa orang-orang yang berada dibalik terselenggara nya sistem Internet yang sudah menjadi nadi dari kehidupan mereka ini. Siapa orang-orang yang mensetup kabel dan jaringan di kampus-kampus, orang-orang yang mensetup rak, UPS, server, switch dan router di datacenter, orang-orang yang meng-crimp kabel UTP dan men-splice kabel fiber, orang-orang yang mengkonfigur Cisco IOS, JunOS, Mikrotik dan Quagga di router-router Internet, orang-orang yang mensetup konfigurasi routing OSPF dan peering BGP ke OpenIXP sehingga anda bisa menyedot file-file di Indowebster, orang-orang yang menerima omelan anda dengan senyum (yang agak dipaksakan) kalau layanan Internet sedang bermasalah, dan sebagainya. Semua orang tadi hanyalah small bits and pieces di dalam kehidupan anda, tapi saya mau tanya, bisakah anda hidup tanpa mereka ?

 

Semua orang-orang yang saya sebutkan diatas ini baru anda rasakan pengaruhnya jika layanan Internet anda mengalami masalah. Jika akhirnya anda nggak bisa buka Facebook. Jika akhirnya anda nggak bisa baca email anda. Jika akhirnya anda nggak bisa nge-Rileks (di ITB) atau nge-Kaskus. Tapi jika semua layanan ini berjalan, mereka ini ada dimana di dalam pikiran anda ? Padahal mereka ini juga manusia yang sama seperti anda. Mereka bukan Superman. Mereka punya keluarga, ayah dan ibu, istri dan anak, adik dan kakak. Mereka punya sekian pekerjaan yang harus diselesaikan diluar pekerjaan mereka sebagai orang IT. Mereka bisa sakit, lelah, capek, bete, dan diatas kekurangan mereka itu, mereka berusaha untuk tetap melayani anda. Singkatnya : mereka juga manusia! Admin Juga Manusia!

 

Inilah sebab musabab kenapa saya tulis artikel di blog ini, untuk mengingatkan anda semua bahwa begitu banyak orang yang berjasa membantu anda untuk tersambung ke jaringan Internet. Untuk mendapatkan begitu banyak manfaat dari Internet. Ini juga bertepatan dengan Sysadmin Day, yang diperingati setiap tahun di hari Jumat terakhir di akhir bulan Juli.

 

Bagi anda orang-orang yang sadar atau tidak sadar berhutang budi kepada para pahlawan tanpa tanda jasa ini, marilah kita berikan penghargaan kepada mereka ini dengan berbagai bentuk, misalnya makan bersama, hadiah kecil yang menyenangkan, atau (if you are that good) tambahan bonus atau naik gaji 😛

 

Bagi anda sesama sysadmin, marilah kita ucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, mudah-mudahan semua amalan kita dihitung sebagai ibadah di sisi Tuhan, dan kita diikhlaskan dalam pekerjaan kita, sehingga tidak peduli seberapa mengesalkannya user yang komplain kepada kita, seberapa menjengkelkannya atasan kita (kadang-kadang), kita tetap dapat bekerja memberikan layanan kepada manusia sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan kita ilmu dan kemampuan sehingga kita dapat menjadi sysadmin seperti saat ini. Dan yang lebih penting lagi, kita tetap diberikan petunjuk dan pimpinan dari Tuhan dan orang-orang bertaqwa di akhir zaman ini untuk dijadikan orang-orang yang selamat dan menyelamatkan manusia lainnya.

 

Mudah-mudahan berguna,

wassalamu ‘alaikum wr.wb.