10 alasan kenapa kultwit harusnya dijadikan blog saja

Salam,

twitter

 

Saya beberapa kali diforwardkan potongan kultwit (kuliah di Twitter) milik orang lain di timeline Twitter saya oleh beberapa teman yang saya follow. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada orang-orang di Twitter yang hobi bikin kultwit dan kepada teman-teman yang saya follow di Twitter, saya akan tuliskan 10 alasan kenapa kultwit itu sebaiknya dijadikan blog saja:

 

1. Dengan jumlah karakter hanya 140, dikurangi dengan nama account Twitter dan hashtag, informasi yang anda kemukakan akan sangat terbatas. Platform blog tidak dibatasi karakter.

2. Informasi di Twitter tidak diarchive oleh Twitter melainkan hanya 2 minggu saja. Bagaimana jika informasi yang di-kultwit tadi diperlukan orang lain di waktu yang akan datang?  Lain halnya dengan blog (misal Blogspot.com, WordPress.com) yang terarchive untuk waktu yang cukup lama. Anda dapat memiliki portfolio tulisan yang lebih lengkap dibandingkan ngultwit.

3. Apakah Twitter ada SEO nya? Apakah kultwit punya SEO nya? Apakah hashtag itu sebuah SEO? Saya belum tahu bagaimana informasi anda ini teroptimasi dengan baik di search engine. Lain halnya dengan blog yang sudah teroptimasi dengan long-readable URL yang mudah dicari di search engine.

4. Bagaimana kalau kultwit tadi sebegitu bagusnya, sehingga ia dijadikan referensi oleh beberapa orang? Bagaimana memasukkan kultwit anda ke blog orang lain? Bagaimana memasukkan kultwit tadi sebagai referensi tugas akhir, misalnya? Anda tidak akan punya masalah seperti ini jika kultwit anda dimasukkan ke dalam blog.

5. Kultwit tidak dapat diupdate, diperbarui jika ada informasi yang lebih baru kecuali dengan cara bikin kultwit lagi. Dengan konsep penomoran seperti 1, 2, 3 dan seterusnya kepada kultwit ini, bagaimana kalau ada materi yg perlu disisipkan diantara nomor 2 dan 3, misalnya? Jadi ingat programming BASIC yang menggunakan penomoran 10, 20, 30 untuk menyediakan ruang terhadap penyisipan kode diantara kode existing🙂 Blog lebih manusiawi, dengan menyediakan format seperti strikethrough atau kita bisa tambahkan informasinya tanpa mengganti URL informasi di blog.

6. Twitter tidak mendukung masuknya rich media (gambar, audio/video) untuk mendukung pendapat anda. Adanya URL shortener hanya akan mengurangi jumlah karakter informasi yang ingin anda sampaikan. Lain halnya dengan blog yang sangat mudah melakukan embed rich media seperti gambar, video Youtube, presentasi Slideshare, dan lain-lainnya.

7. Kultwit memecah-mecah informasi dalam beberapa potongan tweet. Walaupun dengan adanya hashtag, apa jaminannya sang pembaca kultwit tidak akan miss the point? Lain halnya dengan blog, anda bebas menentukan format tanpa dipotong-potong untuk memastikan pembaca memahami informasi yang anda sampaikan.

8. Potongan kultwit yang di-RT oleh follower kultwit akan masuk ke timeline orang lain. Apa jaminannya orang lain tadi memerlukan informasi yang di-RT tadi? Orang lain akan bertanya, apa konteksnya? Seperti halnya kita masuk kuliah ketika kelas sudah berlangsung satu jam. Bukannya berguna, malah membingungkan dan ditakutkan intrusif dan menjadi noise bagi orang lain.

9. Twitter adalah media yang bising. Namanya aja sudah “Tweet”, atau Kicauan, setidaknya itu kata Macmillan Dictionary. Kebanyakan orang bisa memfollow 200 orang lebih. Bagaimana memastikan konteks potongan kultwit itu sampai kepada pengguna Twitter ditengah berisiknya timeline seorang pengguna Twitter? Lain halnya dengan blog. Cukup beri URL blog anda, dan dengan headline menarik, orang akan mampir ke blog itu, sooner or later.

10. Dengan batasan 140 karakter, Twitter membatasi orang menulis dengan seekspresif mungkin. Nggak mungkin kan tulisan Andreas Harsono tentang Iwan Fals ini dimasukkan ke kultwit? Nggak mungkin juga tulisan Alfian Hamzah berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” dimasukkan ke kultwit? Blog memungkinkan tulisan sekeren ini dibaca kapan saja, dan tulisan seperti ini timeless.

 

Demikianlah pandangan saya mengenai kultwit ini. Menurut pandangan saya, Twitter ini menjadi salah satu tools yang sangat berguna, namun bukan untuk kultwit. Saya anggap orang yang menggunakan Twitter untuk kultwit itu terkena sindrom “If all you have is a hammer, everything looks like a nail”. Semuanya ingin dilakukan via Twitter, sementara ternyata banyak tools lain yang lebih optimal jika anda memang mau memakainya. Dan, hei, teruslah menulis! Hanya diubah saja formatnya.

Mudah-mudahan berguna,

Wassalam,

38 pemikiran pada “10 alasan kenapa kultwit harusnya dijadikan blog saja

  1. sepakat pak🙂 mungkin tujuan kultwit itu sendiri biar lebih mudah menjangkau pengguna twitter lain yang notabene jarang blogwalking/rutin mengunjungi suatu blog, tapi resiko jadi noise memang besar.

    oh ya, quote ini juara -> “If all you have is a hammer, everything looks like a nail”

    salam

    1. klo spt itu perlu ada perubahan sikap orang untuk lebih “gigih” mencari informasi, tidak hanya dengan mem follow lantas dapat informasi via kultwit menurut saya. jarang blogwalking ibaratnya sama saja dengan malas pergi ke perpustakaan untuk pergi mencari buku yg referensinya lebih jelas dan diakui. bisa di anggap maraknya kultwit akan memperparah fenomena rendahnya minat baca di masyarakat kita

    1. Masalahnya itu kan kalau ada public figure yg ngekultwit lalu di blog kan, kalau orang yg bukan public figure nggak akan dapet privilege seperti itu😀

  2. Setuju, Pak.

    Kultwit populer krn bs mengundang RT & diskusi dalam waktu singkat. Meskipun sebenarnya diskusi yg terjadi bisa lebih fokus dan terarah kalau saja tempatnya di kolom komentar. Alangkah baiknya kalau kultwit yg diikuti diskusi dgn followers bisa direkap dalam blog sehingga bisa dibaca lagi kapan pun~

  3. hanief

    IMO, twitter per kategori sering disebut sebagai micro-blogging site. Jadi ga ada salahnya sih kultwit juga, karena sifatnya yg easy-posting, sering org ngetwit itu tidak meluangkan khusus tapi menggunakan spare-time seperti saat macet di mobil, di bus, lagi nunggu seseorang dll. Kalo mengganggu ya tinggal unfollow atau mute aja kan beres.🙂

    1. Memang sih ada kemudahan yang didapat, sayangnya seperti tadi yang saya tulis di point ke-8, ditakutkan intrusif karena orang kehilangan konteks. Kalau saya pribadi lihat public figure yang annoying memang sudah saya unfollow dari dulu sih, sayangnya kalau teman2 yg saya follow pada nge-RT itu kan nggak bisa langsung saya unfollow🙂

    1. Sayangnya saya cuma denger informasi sekilas ttg Twitter hanya menyimpan arsip twit kita selama dua minggu dan saya belum ketemu link persisnya, mungkin anda bisa bantu carikan?😉

  4. karakteristik keduanya beda.

    twitter singkat, cepat, menyebar spt virus, tetapi tidak berkesan dalam waktu yg lama. efek dari bandwitdh kecil
    blog agak panjang, menyebar tidak secepat twitter, berkesan lebih lama pada pembaca. bandwidth agak besar
    film, gede banget ukuran filenya, ngopinya lama, tapi kesannya mendalam, efek dari bandwidth yg jauh lebih besar.

    jadi tinggal pilih saja efek mana yg dimaui sesuai badwidth yg dimiliki

    1. Betul, ini kan yang jarang orang ketahui, yaitu karakteristik media informasi. Aku cuma meng-encourage orang untuk lebih tepat menggunakan media informasi. Sebenarnya sih senang-senang aja kalau makin banyak orang yang menulis, cuma sayang aja kalau hasilnya kurang maksimal karena ketidaktepatan memilih media.

  5. Saya sih suka sama kalimat terakhir, “…..Semuanya ingin dilakukan via Twitter, sementara ternyata banyak tools lain yang lebih optimal jika anda memang mau memakainya. Dan, hei, teruslah menulis! Hanya diubah saja formatnya.”

    Itu inti yang ingin disampaikan.

    1. Kayaknya kita harus tahu “asbabun nuzul” nya sebuah teknologi sebelum dipakai sebagai alat kerja pak, agar cara pakainya tepat🙂 Kan nggak tepat ya pak kalau “Kicauan” dijadikan “Kuliah”, saya belum pernah denger ada kuliah berkicau🙂

  6. +100,

    Lugas, tepat sasaran.

    BTW, Bisa juga Twitter menjadi sarana promo untuk tulisan di blog, jadi sifatnya simbiosa mutualisma, bukan memilih salah satu diantara keduanya.

  7. hehe, akhirnya saya banyak mengufollow para tukang kultwit.
    pertama jarang direspon kalo di komen/mention.
    dicuekin kalo di -counter- salah satu tweetnya.
    mengRT tweet yang -menjilat- sipengtwit atau tweetnya.
    btw, ini ada obrolan yg saya ambil dari obrolan rame2 soal kultwit ini : http://bit.ly/kultwit

    1. Hehehe, iya tuh memang kultwit ada “keuntungannya” utk beberapa pihak2 yg nggak mau di-counter, spt kata mas Boy Avianto🙂 nanti saya tulis di blog deh ttg “Keuntungan Kultwit bagi pengguna Twitter”🙂

  8. Ping-balik: Persilangan Pesan dan Surel di Facebook Mail | #direktif

  9. setujuuu pak…
    saya mungkin lebih memilih mengurangi mengunakan micro-blogging untuk
    “berkicau” selain informasi nya setengah2 (tidak sampai secara untuh)
    karena harus mengikuti terus hastag nya yang mungkin terpotong oleh twit yang lainnya…
    dan banyak juga yang akhirnya malah menjadi “sampah”
    mungkin kita terlalu dimanjakan oleh micro-blogging😀

  10. Kalau bukan di twitter namanya jadi bukan kultwit🙂

    Media twitter itu mulai ramai, imho justru karena keterbatasan karakter dan kesederhanaan fitur yg dimiliki. Semua orang bisa ngetwit, ringkas dan spontan.

    Nilai jualnya justru buat saya di situ, Spontan! Ga perlu mikirin konsep, layout foto atau apapun.

    Apa yg lagi kepikirian, bisa langsung di twit🙂.

    Beberapa yang suka kultwit malah mungkin ga punya blog.

    Kadang ada orang yg kasih kultwit ketika lagi terjebak macet terus kepikiran pengalaman dia pakai transportasi masal di luar negeri.

    Lagi liat komunitas sepeda di taman suropati, spontan ngetwit masalah cara merakit sepeda sederhana yg nyaman.

    Sampai yg lagi liat iklan di media cetak, spontan ngetwit pelajaran tentang pengalaman dia di dunia iklan puluhan tahun.🙂

    Ga ada media yg cocok atau tidak cocok buat membagi ilmu menurut saya🙂

    Tidak perlu menjudge orang yg suka kultwit itu terkena sindrom apapun.

    Semua orang punya caranya masing2 dalam membagi ilmu.

    Cheers

    1. “Tidak perlu menjudge orang yg suka kultwit itu terkena sindrom apapun. Semua orang punya caranya masing2 dalam membagi ilmu.”

      Iya betul pak, saya setuju, makanya saya tulis di akhir tulisan ini utk terus menulis. Saya hanya mengkritisi tentang pemanfaatan & pengelolaan informasi harus diiringi dengan pemilihan teknologi yang tepat. Sayang kalau informasi yang baik jadi tidak berguna karena tidak dikelola.

  11. Tulisan yang menarik dan menurut saya memang semua media informasi itu sangatlah penting tergantung bagaimana kita memakai dan mengelolanya. Kita tunggu tulisan berikutnya,Salam Semangat

  12. Ping-balik: Amanah dari Lipatan - Ikhlasul Amal

  13. Setuju! Sayangnya belum semua manusia nge-blog sementara hampir semua manusia bertwitter. Hehe. Beberapa saya tahu bahkan malas update blog setelah punya dunia twitter di genggamannya.
    Memang dua media ini punya tujuan sharing yang berbeda. Yang disayangkan adalah kalau materi kultwit itu sebenarnya cukup bermutu untuk diartikelkan atau bahkan dibukukan tapi hanya berhenti jadi kicauan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s