Revolusi Storage Server ITB

ass.wr.wb.

Maaf nggak terlalu banyak bicara, mudah-mudahan gambar2 ini bisa bicara sendiri :

Storage yang dulu :

ftp-depan ftp-blk1 ftp-blk2

16 x 320GB SATA disk yang dipasang di casing komputer lama. Homebrew. Dimasukkan ke 2 x 8-port SATA controller. Utk menyalakan harddisk dipasang 2 buah power supply PC 400 Watt, utk harddisknya saja. Kekurangannya : tidak reliable, suka mati-mati sendiri. Akhirnya setelah punya duit, diganti menjadi storage di bawah ini.

Storage yang sekarang – sebelum dipasang :

IMG_0273 IMG_0275

IMG_0273 IMG_0286

Menggunakan chassis Supermicro SC846 dan 3 buah 8-port SATA controller. Harddisk menjadi 24 x 320GB SATA disk.  Power supply 2 x 900W kalau mau dipakai redundant. Keuntungan : reliable karena harddisk dinyalakan satu persatu oleh power supply sehingga sistem mudah dinyalakan tanpa menarik arus terlalu tinggi.

Setelah operasional :

IMG_0309 IMG_0310

Akhirnya sistem dinyalakan dengan menggunakan operating system NexentaOS untuk mengambil keuntungan pada filesystem ZFS. Sistem dijadikan storage murni yang diakses FTP server ITB menggunakan protokol NFS.

Silakan lihat Flickr saya untuk gambar2 yang lain.

Thanks to Dodi Maryanto dan Fahdani Rakhmawan yang mau repot ngurusin sistem ini.

UPDATE : Ini link ke blog nya Dani yang membahas storage yang lama.

wass.wr.wb.

16 pemikiran pada “Revolusi Storage Server ITB

  1. Server itu buat apa aza ya mas ? Boleh dong ya ada mirror disitu. Mirror iso Linux seperti di UI dan FOSS-ID misalnya. Masya kalah sama kambing pak Ibam ?😉

    ftp://ftp.itb.ac.id/ saya lihat masa kurang rapi penyusunannya ya, apa memang diset demikian ?

  2. #1. Saat ini http://ftp.itb masih untuk keperluan internal sih, sebab kalau serve ke luar masih takut ngabis2in bandwidth. InsyaAllah ada kemungkinan utk taruh servernya di deket OpenIXP. Ya kalau jadi kayak kambing mah enak, ada link 100Mbps direct OpenIXP ke situ. Syukur2 ada yg mau ngasih link 100Mbps OpenIXP-ITB dgn harga yg wokeh🙂

  3. #4. Ya maklumlah udah bawaannya pegang FreeBSD, dan terpaksa pake NexentaOS utk cari platform ZFS yang stabil.

    #5. Sebenarnya sama saja dgn bikin mirror biasa, hanya dgn bantuan NexentaOS yg punya implementasi ZFS yg stabil itu kita mendapatkan benefit yg banyak, misalnya mudah nambah disk kedalam 1 volume, mudah bikin RAID ZFS, dan juga ZFS nya juga relatif lebih tahan crash.

  4. setelah banyak dipelajari dan diteliti sampe rambut jabrik, ternyata kekurangan dari “si Monster” yang lama adalah:
    1. kurang keren (itu udah pasti :))
    2. kurang power supply (yang menyebabkan “Si Monster” sering restart dan hardisk sering jebol)
    dan kekurangan monster baru adalah;
    1. “monster” yang satu ini banyak ngabisin listrik (sebenernya sih sama juga sama yang lama), karena PSU nya pake 900W x 2 = redundant PSU
    2. kurang saklar (rupanya si produsen lupa membubuhi saklar on dan lampu indikator ke cassing yang keren ini, jadinya yaaa,… kurang ganteng juga🙂 )

  5. Dedhi

    Heheh, sebetulnya nanya pakai Linux itu cuman nyindir aja. Soalnya di Linux itu gak ada LVM yang reliable atau bermutu. Terlalu banyak fork, tapi bahkan yang di maintain orang IBM aja dimatikan😦
    Sementara Solaris x86 menawarkan Solaris LVM yang sangat reliable dan sekarang juga memberikan ZFS ke public.

    #Dani,
    saklar emang kagak ada, data center class system 24×7 kok pakai saklar🙂
    Lalu soal redundant PSU, itu tidak akan bikin boros kok, karena jika keduanya jalan, beban akan jadi 50% each. Coba aja pakai tang ampere kamu ukur current yang masuk ke PSU, dan bandingkan ketika single feed lawan dual feed.
    Kalo soal system yang lama sering modar, itu karena pembuat PSU banyak yang kurang ajar. Sok ngelabel 400W, tapi ternyata ditarik daya 350W, tegangan di 5V dan 12V rail sudah drop di luar toleransi. Di lab banyak DVM kan, monitor aja voltage rail ketika ada high usage di hard disknya

  6. Dedhi

    @ Yuda : Kebetulan saya sering deploy RHEL dan Solaris. Dari keduanya saya bisa melihat kualitas produk LVM-nya. Kebanyakan akhirnya untuk RHEL, karena ketidakpercayaan dunia Enterprise dgn LVM Linux, jadinya beli commercial product macam Veritas Volume Manager.

    ZFS dari Sun sendiri merupakan Volume Management dan File System yang dicampur jadi satu. Jadi tidak ada ada konsep VM dan FS yang terpisah. Kehandalannya bisa dilihat dari : http://www.joyeur.com/2008/01/22/bingodisk-and-strongspace-what-happened, walau mereka down selama 10 days, tapi data tidak hilang. Karena IMHO ZFS satu satunya file system yang punya checksum di dalam block datanya sendiri, jadi bisa self healing dari level data block itu sendiri, bukan hanya healing dari disk parity. Udah gitu enaknya dia Endian agnostic, mau di mount di mesin Solaris SPARC atau Solaris x86 bisa bisa aja. Lalu juga punya kemampuan snapshot, block replication, iSCSI Thin provisioning, auto-scrub yg jadi ciri khas Enterprise storage, yg bisa didapat dengan gratis.

    Saya sendiri di rumah pakai solusi yang terinspirasi ini : http://www.joyeur.com/2008/01/22/bingodisk-and-strongspace-what-happened. Ini karena Sun sudah melepas driver buat SATA Controller dari Intel ICHx, NVidia NCP dan Silicon Image System dalam mode AHCI, bukan Legacy ATA lagi

    Kalau anda mau bikin sendiri tapi tidak mau tahu soal tetek bengek belajar Solaris, bisa download NexentaStor yang sudah membikin GUI sehingga tinggal install jadi Appliance : http://www.nexenta.com/corp/. Developer Edition-nya bisa kasih 1TB free license. Kalau masih mau coba coba, ada VMWare virtual appliance yang bisa dicoba.

  7. Dedhi

    nanya nih, 8 port SATA Controller-nya pakai chipset apa yah?

    Soalnya belakangan ini ketahuan, kalo SATA Controller dari Silicon Image yg 3124 (Sil3124) ternyata punya problem di hardwarenya, sering silent data corruption.

    Udah gitu biar drivernya Open Source oleh SI, company itu diem aja tidak ada recall atau kompensasi apa apa. Parah juga.
    Di Linux world, ada kernel update buat workaround data corruption ini, walau saya ragu apa berguna, lha hardwarenya sendiri yg problem kok😦

  8. @dedhi 1
    yap,… sama aja kalee,… kan jumlah yang dipakenya sama,… mau dual kek, mau trial kek, mau quadal kek, kan jumlah hardisk, memori, cpu, dll nya sama. power yang dipake juga nggak akan nyampe 100% kalo sampe segitu dijamin dah tuh psu nggak akan tahan lama, pas start up aja nggak sampe 100% apa lagi kalo udah running

    @dedhi 2
    kalo card nya sih pake buatan endonesa, adaptec, kalo chipset nya lupa lagi ;))

  9. @ dedhi 1
    oh ya lupa, masalah saklar,… kalo setau sy sih server secanggih apapun pake saklar tuh, tentu saja kegunaannya supaya bisa dimatikkan dalam keadaan darurat. saklar itu kata lainnya tombol on/off. kalo diliat di gambar https://affanzbasalamah.files.wordpress.com/2008/06/img-0309-thumb.jpg?w=244&h=184 dipinggir kiri bawah server ada kabel yang keluar (jenis pita) nah seharusnya disitu ada tombol, rupanya suplayer nya lupa ngasih “saklar” itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s