Rektorat vs Mahasiswa, siapa yang salah ?

Ass.wr.wb.

Saya jadi pingin cerita tentang bagaimana Rektorat di ITB kurang mampu mensosialisasikan kebijakan terbaru tentang pengaturan kendaraan yang boleh masuk ke ITB di siang dan malam hari, di hari kerja dan hari libur (sabtu dan minggu), yang berakibat munculnya kekesalan pihak-pihak yang diatur, dalam hal ini mahasiswa.

Jadi ceritanya itu begini. Pihak Rektorat ITB melihat bahwa keluar masuknya kendaraan dan orang di ITB itu kurang teratur, karena siapa saja bisa masuk ke ITB, baik berjalan kaki, kendaraan roda dua dan roda empat. So far so good, tapi yang jadi masalah kalau ada orang yang masuknya berjalan kaki, keluarnya bawa kendaraan roda dua atau empat YANG BUKAN MILIKNYA (alias maling). Ada juga kok katanya yang malingnya lebih oke, jadi dia itu bisa mencuri motor dengan modus menggotong motor curiannya itu dan membawa kabur dengan menggunakan mobil pickup. Keren kan ?

Itu satu dari sekian permasalahan tentang kendaraan bermotor di ITB, dan pihak Satpam ITB sering sekali dijadikan kambing hitam. Tentunya perlu ada solusinya, maka salah satu (tepatnya tiga) diantara solusi tadi adalah penggantian Ketua Satpam ITB, pengaturan pihak-pihak yang boleh masuk ITB melalui kartu pegawai dengan portal berbasis contactless smartcard, dan pembatasan jam masuk kendaraan bermotor di ITB.

Kalau saya lihat, karena kurang sosialisasi (dan mungkin daripada sosialisasi kelamaan biasanya nggak didengerin, tancap aja dah sekalian), maka dilaksanakannya peraturan itu. Nampaknya berakibat cukup besar kepada mahasiswa yang hobinya musti dateng malam ke kampus, entah itu untuk bikin Tugas Akhir di Lab, atau hanya sekedar ngegame, ngedownload dan nonton film di kampus. Semua kendaraan bermotor milik mahasiswa harus diparkir di depan Ganesha, dan mahasiswa harus berjalan kaki ke tempatnya masing-masing.

Muncul reaksi di kalangan mahasiswa, mulai dari yang ngedumel di forum Rileks, ngedumel di milis ITB, bikin selebaran anonim, sampai ada yang bertindak cukup jauh dengan melakukan aksi vandalisme pada peralatan portal parkir ITB dan aksi coret-coret tembok ITB. (Tapi saya juga belum tahu loh ini pelakunya sebenarnya siapa, lebih amannya kita katakan ‘oknum’ mahasiswa).

Kalau ditanya siapa yang salah disini, saya akan jawab ada tiga pihak yang bersalah :

  1. Rektorat yang kurang mampu mensosialisasikan peraturan ini dengan fleksibel. Kalau dugaan saya ya mungkin pihak Rektorat belum mampu menemukan metoda sosialisasi yang ‘kena’ kepada seluruh penghuni kampus. Rektorat rata-rata juga tidak menganggap mahasiswa itu sebagai rekan, yang juga punya kebutuhan yang harus dilayani oleh Rektorat.
  2. Mahasiswa yang kurang mampu merespon dengan elegan terhadap isu ini. Munculnya aksi-aksi vandalisme hanya makin meyakinkan Rektorat bahwa mahasiswa ini susah diajak kerjasama (walaupun definisi ‘kerjasama’ antara Rektorat dan Mahasiswa itu harus disepakati bersama). Mahasiswa pun belum mampu menganggap Rektorat sebagai pihak yang harus dihormati di dalam kampus. Mahasiswa pun tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Rektorat lakukan untuk memastikan mereka bisa kuliah, bisa belajar dengan aman dan nyaman di dalam kampus.
  3. Saya sendiri, yang tidak mampu memberikan contoh solusi sosialisasi peraturan yang elegan di ITB ini. Kalau seandainya saya mampu buatkan contoh sosialisasi yang baik, yang akomodatif, yang memiliki transition period yang cukup untuk pelaksanaan peraturan ini, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Toh saya sudah beberapa lama mengurusi jaringan di ITB, dan sosialisasi peraturan baru itu adalah makanan lama bagi saya.

Mudah-mudahan dengan kejadian ini menjadi contoh bagi saya untuk bikin layanan jaringan ITB yang lebih baik, yang sosialisasinya baik, yang mekanisme transisi nya akomodatif dan baik, sehingga bisa menjadi contoh bagi pihak-pihak lain yang memiliki masalah serupa. Amin.

Wass.wr.wb.

13 pemikiran pada “Rektorat vs Mahasiswa, siapa yang salah ?

  1. pak affan,
    Kalau boleh tau bagaimana policy penggunaan internet, jaringan dan sebagainya di ITB, kalau ada peraturan tertulis, mohon bisa dikirimkan ke email saya. apapun lah pak, mungkin mengenai content filtering, port yang boleh digunakan, apa yang boleh disharing, alokasi IP, alamat email dan sebagainya. terima kasih banyak sebelumnya

    O, iya mengenai parkir bingung juga ya. mungkin komunikasi antara rektorat dan mahasiswa dan sebaliknya yang harus dibangun lagi, ditempat saya juga sama pak, ada masalah maksudnya, saya dan temen2 yang kalau tanggal merah, selain sabtu dan ahad maksudnya, itu sering ke kampus, entah browsing, download atau menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan, masalahnya gerbang fakultas ditutup, digembok, padahal dari gerbang depan universitas tidak ada tempat parkir yang aman, setidaknya menurut pengamatan saya (tempat parkir yang ada tidak diawasi oleh satpam ketika liburan). capek juga kadang, mau ikut membangun dan bermain dikampus eeee malah ditutup:D

  2. kasian juga sih mas, temen-temen admin yang bawa motor. kalo ada server mati jam 12 malam dan motor ga boleh masuk, takutnya merugikan banyak pihak. seperti pencurian motor yang parkir di luar dan server yang gagal menyala.😀

    -IT-

  3. #1. Wah mas Sumodirjo, kalau mau cerita kayak gituan, mending mampir ke tempat saya deh. Tempat komentar wordpress ini nggak cukup menampung info2 yang bisa saya kasih ke anda😉

    #2. Ya gitu deh. Kita cuma bisa bikin improvement aja sendiri.

    #3. Jam 12 malem ada server mati ? Ya dilihat urgency nya sih. Kalau kita musti jamin server itu harus nyala 24/7, ya mau gimana lagi. Tapi kalo nggak, ya kita nggak usah terlalu ngurus2in banget lah. Paling besok pagi2 setelah jam 6 musti diberesin sebelum jam 8 mulai dipakai.

  4. tapi yang jadi masalah kalau ada orang yang masuknya berjalan kaki, keluarnya bawa kendaraan roda dua atau empat YANG BUKAN MILIKNYA (alias maling).

    cekikikan saya bacanya

    kalo ditanya yang salah siapa saya pilih nomer 1 mas:mrgreen:
    *budaya orang indonesia, gak mau disalahkan*
    *kaboer*

  5. Wah sejak ada peraturan itu, aku jadi lebih suka naik angkot ke kampus Mas Affan. Ya habisnya malas juga sebelum pukul 6 sudah harus pindah motor.

    Ya, sosialisasi ternyata bukan hal yang mudah😉

  6. Kalau ada 100 mahasiswa ITB berpikiran yang sama dengan mas Zaki lumayan juga tuh…side effect-nya sopir angkot jadi naik kesejahteraannya.Ini positif kan…?he he. Signifinakan ga sih.100x2000x….hmmm? Males ngitungnya… :p

  7. Iya, susah juga sih.. Menurut saya resiko hilang Motor ditaruh di luar lebih besar Mas. Nah, itu pun gak ITB gak mau tanggung jawab.
    Saya sendiri sih gak masalah dengan aturan parkir itu. Masih ada angkot pulang.😀
    Yang aneh itu adalah Motor Parkir di dalem gak bisa keluar kalo lebih dari Jam 6. Apalagi kalo Jumat, berarti harus ditaro sampai Senen..

  8. Baru kali ini sempat lihat blog-mu. Dan baru beberapa bulan ikut nge-blog juga. Sepertinya saya harus belajar banyak dari kamu, Fan. Hebat juga blog-mu, saya salut…:).

  9. yang sangat disayangkan dari akibat peraturan parkir ini ya tumbuhnya ‘tukang parkir ilegal’. setuju juga klo di parkir timur dibuka sampai jam 12 malam paling nggak ngurangi tukang parkir ilegal dan gak enak dipandangnya itb jika dilihat dari depan.selain itu biar para mahasiswa tidurnya nggak larut malam ^_^.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s