Rants on Linux Movements in Indonesia

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Saya cuma ingin berbagi mengenai apa yang saya amati dengan pergerakan Linux di Indonesia.

Saya ini network administrator. Perkenalan pertama saya dengan Linux itu waktu disuruh ama senior saya Mas Ismail Fahmi ngutik-ngutik mesing gateway Radio Paket di ITB tahun 98-99. Waktu itu mesinnya masih pakai Slackware (versi berapa lupa), yang jelas kernelnya versi 2.0.35 (nah, kalau kernelnya masih inget). Ada aplikasi sejenis tcpdump di Linux ini untuk melihat trafik apa saja yang masuk keluar dari interface serial modem radio paket ini. Ini salah satu hal yang mempermudah saya mengerti protokol TCP/IP.

Akhirnya saya jadi admin jaringan di ITB sampai sekarang. Saya pribadi tidak banyak pakai Linux dalam pekerjaan saya. Server yang ada di bawah pengurusan saya di ITB ini pakai FreeBSD. Sampai sekarang. Saya orangnya pro kemapanan untuk urusan server. Sekali FreeBSD, lembam bagi saya untuk coba-coba OS lain. Era nya sudah selesai. Sekarang eranya aplikasi. Eranya adalah get result dari server dan aplikasi yang saya install.

Terakhir saya pakai Linux itu ketika saya dapat manual dari Howtoforge untuk menginstall VMware Server di Linux Ubuntu. Kalau kata Bondan Winarno, maknyos! Cepat sekali nginstallnya. Tapi setelah jadi, tetap saja saya install FreeBSD dan Windows Server sebagai Guest OS nya. Ada juga saya install Ubuntu jadi Guest OS. Kenapa ? Karena manual instalasi aplikasi tadi itu adanya untuk Ubuntu. Tinggal ikuti langkahnya, selesai! Gak pake mikir lagi. Tinggal dikonfigurasi aja sesuai kemauan kita.

Desktop saya juga dari dulu nggak pernah pakai Linux. Pernah sekali coba FreeBSD, tapi tetap aja ada yang kurang. Sekarang sih pakai Windows OS legal gara-gara ITB ikut Microsoft Campus Agreement. Apalagi sekarang pakai Thinkpad, pakai aplikasi ThinkVantage nya sangat maknyos sekali.

Saya amati perkembangan teman-teman pengguna Linux di ITB sekitar tahun 98-99. Dulu saya inget yang jadi aktivis Linux itu Mas Jay (Teknik Arsitektur) dan Bimo (Teknik Mesin). Linux yang dulu populer itu Slackware, baru kemudian muncul Redhat. Jaman dulu banyak acara Installfest. Banyak yang belajar install Linux. Saya waktu itu cuma denger-denger aja, tapi nggak ikut.

Setelah sekian tahun berlalu, saya kok nggak lihat gregetnya perkembangan Linux di Indonesia ya. Mungkin saya yang salah paham. Tapi yang saya tahu itu, tidak ada target yang jelas mengenai apa yang bisa dibuat oleh komunitas Linux di Indonesia.

Kira-kira kepinginnya apa. Mau meruntuhkan Microsoft ? Jelas hampir mustahil. Anak kemarin sore kok mau melawan Bill Gates yang sudah dari tahun 70’an sudah bikin perusahaan sendiri. Mau menggantikan Windows dari desktop orang se-Indonesia menjadi Linux ? Jelas hampir mustahil.

Kekurangan yang saya lihat ada pada komunitas Linux di Indonesia ialah :

1. Tidak ada blueprint roadmap pengembangan Linux di Indonesia. Semuanya jalan sendiri-sendiri. Yang mau bikin distro, bikin distro. Yang mau kasih tech support, kasih tech support. Yang mau bikin buku, bikin buku. Tapi kesemuanya ini tidak sinergis, tidak menuju ke satu tujuan.

Dan katakan semuanya sudah jalan. Berapa lama ia akan bertahan ? Adakah yang berani jamin bahwa distro yang ia buat ini akan didukung sampai waktu yang cukup lama ? Bagaimana kalau project-project itu forking ? Akankah dia mendukung userbase yang sudah ada serta kompatibel dengan versi yang lama ?

2. Tidak ada satu entiti di Indonesia yang berani pasang badan sebagai wakil dari Linux (jika memang mau melawan Microsoft).

Sekarang kita coba ingat waktu IT-KPU memilih Microsoft sebagai penyedia solusi IT. Kenapa Microsoft, bukannya Linux ? Karena pada waktu itu sudah jelas bahwa jika proyek ini gagal (dan syukur alhamdulillah berhasil), maka harus ada pihak yang digantung (dalam hal ini dirut Microsoft Indonesia, atau bahkan dirut regional Microsoft Asia Pacific). Somebody has to take the blame! Ini tidak dapat dihindari. Apakah pada waktu itu ada entiti dari komunitas Linux yang berani melakukan hal yang sama ? Dengan an army of engineer and tech support di belakangnya ?

Katakan pemerintah membatalkan MOU Depkominfo dengan Microsoft, dan menggantinya dengan Linux. Apakah komunitas Linux sudah siap memberikan layanan kepada sekian ribu workstation yang ada di ratusan atau ribuan kantor di seluruh Indonesia, dengan cepat, tepat dan memuaskan ? Siapa orangnya yang akan bergerak menjadi technical support ? Siapa orangnya yang menjadi project leader ? Dan akankah dia bertahan, sampai berapa lama ?

3. Linux itu sendiri pun masih berpecah-pecah didalamnya. Ada Redhat, Debian, SUSE, Ubuntu, Slackware, dan ada sekian ratus distro Linux yang ada di dunia. Dan sayangnya, kesemuanya ini tidak saling seragam dan selaras.

Coba saya tanya anda yang jagoan Redhat. Kalau saat ini anda saya kasih console Slackware, bisa nggak anda tahu dengan pasti file konfigurasi jaringannya ada di mana. Apa perintah untuk mereset koneksi network. Atau anda yang jagoan Debian. Coba saya minta tolong konfigur iptables di Redhat. Perintahnya berbeda! Padahal ngakunya sama-sama Linux.

Jadi sebelum mau ngomong Linux ini dan itu, lebih baik sepakat saja orang se-Indonesia ini, mau pake Linux yang mana. Mau pakai Redhat, ya Redhat lah. Mau pakai SUSE, ya SUSE lah. Mau pakai Ubuntu, ya Ubuntu lah. Seperti pemerintah China itulah, bikin distro nasional, dan semua orang pakai. Setelah itu, semua daya upaya dikerahkan untuk mendukung distro yang disepakati ini. Kalau perlu, distro yang lain selain distro yang disepakati itu dilarang dipakai di seluruh Indonesia!

Kenapa kok ekstrim seperti itu ? Karena saat ini image Linux di Indonesia itu masih kurang jelas. Lha wong Linux itu cuma kernel doang. Cuma inti dari Operating System. Masa kita mau pakai inti dari OS untuk mengerjakan Office, Firefox, dan sebagainya ? Kalau mau promosi, seperti Microsoft itulah. Harus lengkap! Ada OS, ada Office, ada Server dan Application Server, ada Development Platform. Dan ini semua harus ada supportnya. Atau minimal, promosikan Operating System yang lengkap, seperti FreeBSD, OpenBSD, Mac OS X atau Solaris dan GNUSolaris.

Saya usulkan, sebaiknya komunitas Linux di Indonesia itu mempromosikan satu distro Linux saja. Posisikan Linux itu sebagai appliance, peralatan rumah, yang tidak perlu diketahui cara kerjanya. Pokoknya colok dan main! Tanpa dikonfigurasi kernelnya. Tanpa update source via cvs. Kalau bisa, tidak ada proses konfigurasi apapun. Cukup timezone, networking, cek harddisk otomatis, dan jalan, tahu-tahu bisa dipakai ngetik, browsing, ngegame. Apakah orang yang menginstall Windows itu tahu masalah Registry, Prefetch, dan file .dll itu ? Nggak banyak yang tahu. Tahunya diklik-klik, terus jalan.

Nah, kalau sudah, buat sebuah badan besar yang akan mengayomi semua pengguna Linux di Indonesia. Dia harus jadi Linux Center, pusat tempat bertanya pengguna Linux se-Indonesia. Dan ini haruslah juga menjadi bisnis. Ada cash yang berputar. Ada orang yang hidup dari situ, dan ada yang menghidupi orang yang hidup disitu. Developer, Project Manager, Director, dihidupi oleh userbase se-Indonesia. Pusat Linux ini menyediakan technical support on-call 24/7, 8×5 Same Business Day. Ada training. Ada workshop. Ada penulisan buku. Ada kerjasama dengan vendor hardware. Ada kerjasama dengan vendor software. Ada kerjasama dengan universitas. Cakupannya se-Indonesia. Dan masalahnya satu : Ini harus sustain, berputar. Bukan project, tapi bisnis.

Selama pendekatan kita tentang sistem IT berbasis Open Source itu masih peruntukan user satu dua orang, pendekatan user kecil (misal warnet), pendekatan SMB pegawai kurang dari 20 orang, tidak akan mungkin anda tepuk-tepuk dada mau melawan Microsoft. Pendekatan anda gak akan scale untuk user ratusan atau ribuan orang. Microsoft dengan bangga nya kalau kasih contoh implementasi Active Directory mesti sebuah perusahaan multinasional dengan cabang minimal di tiga negara. Ada nggak yang pernah bikin case study pemanfaatan Linux Desktop dengan skala segitu ?

Kebetulan kampus saya memperbarui perjanjian Campus Agreement nya dengan Microsoft. Update terkini yang tersedia adalah Windows Vista Business Upgrade (musti upgrade dari XP, bukan fresh install) dan Office 2007. Saya juga denger isu-isu dari Internet mengenai interface terbaru dari Office 2007 yang betul-betul berubah dari sebelumnya. Akhirnya saya coba aja pasang si Office 2007. Dan saya terpaksa mengatakan, mohon maaf kepada aplikasi office lainnya, ketertinggalan anda semakin jauh dari Microsoft. Interface Ribbon dari Office 2007 ini memang intuitif. Oke deh, mungkin tidak seintutif yang anda bayangkan. Dengan interface baru ini, butuh adaptasi sekitar sehari untuk mengetahui perintah yang sering anda pakai itu sekarang pindah ke mana. Tapi setelah itu, jauh banget. Kalau mau pake kosakata orang bisnis, jadi lebih produktif! Yang jelas, user-user yang bodoh-bodoh itu dipermudah untuk bikin hasil karya yang cantik dan profesional dengan cepat. Seakan-akan dibuat user itu seperti pembuat dokumen profesional dengan Office 2007 ini. Kalau nggak percaya, coba aja.

Satu hal lain ingin saya kemukakan mengenai teknologi yang diperkenalkan oleh Microsoft, agar anda aktivis Linux tahu seperti apa “musuh” yang anda hadapi ini. Saya melihat di tempat kerja saya sudah muncul kebutuhan mengenai aplikasi repository document Office. Ini dikarenakan ada sebuah project yang membutuhkan submisson proposal dari berbagai pihak. Tiap bagian dari tempat kerja saya ini harus mengajukan usulannya, dan usulan-usulan mereka akan direview oleh sekretariat, untuk kemudian kompilasi dokumen ini akan diajukan ke Jakarta untuk direview oleh pemberi proposal. Muncul masalah ketika kompilasi dokumen ini mendapatkan feedback dari reviewer Jakarta, sekretariat akan meminta tiap bagian untuk mengecek dokumen yang mendapatkan feedback ini. Pihak sekretariat sering berbeda pendapat dengan tiap bagian yang mensubmit proposal ini (termasuk dengan saya, yang kebagian di bidang pembuatan Data center) karena saya merasa sudah melakukan edit sesempurna mungkin, sementara ada kemungkinan pihak sekretariat tidak mensubmit proposal yang terakhir saya edit. Disini kesalahan ada di pihak mana ? Disinilah muncul kebutuhan adanya sebuah server repository dokumen yang memiliki fitur versioning control.

Saya iseng saja mencari, apa kira-kira aplikasi yang mampu menjawab permasalahan ini. Ternyata baru saja diluncurkan produk dari Microsoft bernama Windows Sharepoint Services (WSS) 3.0. Kira-kira ini adalah versi lite dari Sharepoint Server (SPS) 2007 yang juga sudah tiba. Dan lucunya, WSS ini disediakan download gratis, sementara SPS itu berbayar. Saya segera install Windows Server 2003 di mesin Vmware saya, dan dalam waktu yang nggak terlalu lama, server WSS ini sudah jadi. Karena saya bukan ahli instalasi Microsoft Server, butuh waktu untuk mencari knob-knob apa saja di IIS 6.0 dan WSS ini. Tapi hasilnya itu lho. Saya sekarang memiliki server yang mampu menyimpan dokumen Office saya (.doc, .xls, .ppt, .vsd dan outlook) dengan versioning control yang saya inginkan. Mirip CVS, tapi untuk Microsoft Office. Kalau mau editing dokumen, di revisi, di check-out dan check-in, saya nggak perlu buka aplikasi lain selain Office Word/Excel/Powerpoint nya. Saya save, langsung diupload ke server. Saat ini servernya baru saya pakai di tempat saya dulu, masih terus saya oprek, sebelum saya suruh orang-orang untuk segera install. Malah boss saya setengah memaksa saya untuk menghadirkan WSS ini di servernya.

Kalau anda tanya, security nya gimana ? Windows Server itu kan jelek security nya ? Jawab saya : Lha kan saya install di Vmware. Saya tinggal backup image nya aja secara rutin. Kalau ada yang ngehack, tinggal saya restore image hari kemaren. Beres. Nggak pake mikir kelamaan. Kalau ada yang ngehack lagi, saya restore lagi (tentunya sambil saya coba patch lagi). Kok repot. Gitu aja terus sampe hackernya capek.

(Kalau anda tanya, kok pakai Vmware ? Nggak lambat tuh ? Jawaban saya : lebih mudah bagi saya minta tolong kepada boss untuk membelikan server Opteron dual core, dengan RAM > 2 GB dan harddisk 2 x 250GB, agar saya bisa deploy minimal 4 server virtual yang relatif lebih mudah dioprek dan di backup. Kadang-kadang penyelesaian masalah performa komputer itu lebih mudah dicapai dengan pergi ke toko komputer dan beli tambahan RAM dan harddisk dibandingkan susah-susah nanya Mbah Google untuk mendapatkan tips optimasi kernel dan operating system. Beneran!)

Gitu lho. Nggak masalah untuk orang itu keluar uang, asal hasil dari uang itu bisa dipakai untuk get result lebih tinggi lagi daripada investasi yang dia keluarkan. Lebih baik cepat bekerja, daripada repot ngurusi kenapa konfigurasi server itu begini begitu, driver ini nggak cocok ama driver itu, kernelnya kurang optimal, dan sebagainya. Sudah lelah saya kena masalah begituan sedjak tahoen 1998 sampai sekarang.

Saya juga tahu kok kalau Linux dan Open Source itu juga punya kekuatan. Linux dan Open Source itu bisa dipakai untuk menjadi server infrastruktur dan networking, seperti email, DNS, DHCP, router, firewall dan security appliance. Terutama UNIX berbasis BSD, inilah kekuatan barang-barang Open Source itu. Saya pernah kok mengurusi server Windows sebagai server DHCP, dan asli ngaco banget. Suka-suka mati sendiri. Jauh dibandingkan dengan ISC-DHCP yang sampai sekarang nggak mati-mati. Kalau saya disuruh install router dan firewall, justru lebih gampang nginstall router dan firewall di BSD. Saya pernah pakai Microsoft ISA Server pas tahun 2004, dan asli saya nggak ngerti konsep firewall nya mereka itu kayak apa. Pusing. Daripada kelamaan, langsung saya masukkan CD FreeBSD, dan router firewall nya langsung nyala in no time.

Jadi apa sih inti ocehan saya sepanjang ini ?

Selalu lihat IT sebagai sebuah solusi menyeluruh. IT hanyalah alat yang dipakai untuk mempercepat penyelesaian sebuah persoalan. Ingat, IT hanya alat. Apalagi hanya sekedar operating system atau sebuah aplikasi.

Kalau memang masalah di customer itu bisa lebih [cepat,mudah,baik] diselesaikan dengan menggunakan Microsoft, ya kita selesaikan dengan Microsoft. Kalau masalah lebih [cepat,mudah,baik] diselesaikan dengan FreeBSD, pakai FreeBSD. Kalau lebih [cepat,mudah,baik] diselesaikan dengan Linux, pakai Linux. Nggak usah susah-susah. Sekarang ada teknologi virtualization yang bikin kita bisa lebih cepat memasang dan mencoba sebuah OS dan aplikasi, dan kalau jelek, tinggal dihapus saja. Gunakan ini.

Kalau misalnya kita orang IT ini jadi pendekar kungfu, OS dan aplikasi yang sekian banyak itu hanyalah satu macam senjata untuk menghadapi musuh. Kita bisa menghadapi musuh dengan tangan kosong, pedang biasa, pedang katana, toya, nunchaku, trisula, pisau, gada, dan macam-macam tipe senjata lainnya. Kalau musuhnya menggunakan senjata yang lebih besar, misalnya pistol, kita harus pakai senjata yang memungkinkan kita menang melawan mereka. Kita harus upgrade senjata kita menjadi senapan double shotgun, M-16, MP5, Ingram, Uzi, peluncur roket, pelempar api atau BFG9000 (seperti di Doom 3). Kita harus pastikan musuh itu kalah dengan kita.

Itu kalau musuhnya sendirian, kalau musuhnya keroyokan bagaimana ? Ya kita ganti strategi, tambah anak buah, dan ganti senjata kita. Kalau musuhnya besar, dengan senjata canggih, dan berskala besar, bagaimana kita mau menang kalau perangnya frontal ? Ya jelas mampus lah anda disapu tank Abrams M-1. Ganti strategi dengan perang gerilya. Perang dengan cara sembunyi-sembunyi dengan memanfaatkan dukungan rakyat. Putus jalur suplainya. Pasang ranjau di jalur konvoi nya. Pakai sniper untuk membunuh jenderal-jenderal utamanya. Gunakan mata-mata untuk mencari kelemahan musuh.

Jadi implementasi dua paragraf perang ini bagaimana ? Ya sering-sering aja coba semua solusi IT yang ada. Saat ini terlalu banyak informasi IT di Internet, mulai dari website, artikel, analisa serta blog IT. Jangan malu-malu mencoba semua solusi. Kalau anda di sisi IT, nggak ada yang namanya musuh abadi dan kawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi😉 Yaitu kepentingan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada customer dengan skill yang kita miliki. Kalau nggak sempat mencoba semua, cari orang yang pakai sebuah solusi, tanya kenapa dia kok pakai solusi ini daripada solusi yang lain. Lalu rumuskan saja, mana solusi yang menurut anda paling optimal.

Tentu saja ada keterbatasan, misalnya dana, sumber daya manusia (baik customer atau administrator), serta perangkat keras. Tentu saja perlu kemampuan untuk mengambil jalan tengah berdasarkan konstrain-konstrain ini. Tapi ada konstrain yang sering lupa kita perhitungkan : waktu! Kita sering lupa menghargai waktu kita sebagai IT administrator. Kita sering menghabiskan waktu mengurusi hal-hal yang nggak jelas dan nggak mutu seperti urusan driver, kernel dan segala macem. Padahal kita masih harus mengurusi hal lain yang lebih penting, mulai di organisasi kita (misalnya arsitektur desain yang baik, capacity planning, servis baru yang akan diberikan), dan yang lebih penting lagi adalah kehidupan pribadi kita.

Mau pakai solusi Linux, solusi Microsoft itu buat saya nggak ada masalah semua. Nggak pathéken, kata orang Surabaya. Asal aplikasi yang saya mau itu bisa jalan di platform itu, ya saya jalankan. Yang penting tujuan tercapai. Yang penting user happy dan nggak banyak masalah (sehingga mereka nggak banyak teriak-teriak komplain). Kita jadi lebih fokus untuk mengurusi hal lain yang lebih penting, daripada sekedar mikir masalah instalasi OS. It’s so jadul, it’s so 90’s, it’s so ABCDEF (Aku Benci Capek Deh Eike Fusiiing).

Kalau ada diantara anda pembaca yang tersinggung, silakan tersinggung. Nggak ngaruh kok ke saya. Kalau ada yang tercerahkan, ya syukurlah. Toh ini kan hanya celotehan saja. Saya nggak butuh feedback apa-apa, kecuali perubahan mental dari orang yang masih hobi mikirin instalasi aplikasi menjadi orang yang lebih mikir gimana sistem IT ini bisa bikin orang lebih [cepat,mudah,baik] menyelesaikan pekerjaannya.

Saya juga menerima kritik kalau saya dikatain omdo, omong doang. Ya terserah lah. Saya baru bisanya begini, dipasrahi mengurus sistem infrastruktur IT di tempat saya. Apa yang saya bisa lakukan, baik itu install FreeBSD jadi router, server, firewall, bongkar-bongkar Internet untuk dapet tips-tips terkini mengenai IT, baru itu saja yang bisa saya buat.

NB: Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menihilkan usaha anda para opreker Linux. Kadang-kadang saya perlu bantuan anda untuk mengetahui detail OS Linux dan kaitannya dengan hardware. Tapi mbok yao naik kelas gitu lho. Misalnya bikin appliance Linux-based apa gitu yang bisa jadi produk yang bisa dijual, misalnya network appliance, security appliance, high-performance cluster, atau embedded Linux untuk perangkat rumah tangga. Produk yang dijual ke perusahaan yang perlu solusi IT, bahkan kalau perlu sampai diekspor ke luar negeri. Masa anda nggak malu dikadalin Cisco yang jual box IDS, padahal dia isinya Linux pakai Snort. Jual box “network optimizer” yang isinya Linux ditambahi Squid. Jual box NAS, padahal isinya hanya Linux diisi Samba, FTP dan NFS daemon. Itu kan perkara ecek-ecek yang bisa anda buat sendiri. Masa sih skill anda nggak bisa dinaikkan sehingga memiliki nilai ekonomis ?😉

Gitu aja deh ocehan saya, cukup sampai di sini. Terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

44 pemikiran pada “Rants on Linux Movements in Indonesia

  1. Mas Jay, trims atas komentarnya. Memang sih dasar manusia, kalau cuma dikasih satu solusi, bilangnya nggak ada variasi. Dikasih variasi yang buanyak akhirnya bingung sendiri😉

    Inti dari rants saya ini cuma agar komunitas Linux Indonesia ini bergerak maju gitu lho. Kok perasaan setelah ditinggal Mas Jay dkk (perasaan saya pernah lihat foto2 nya tuh meeting pertama bandung.linux.or.id) sebagai pionir komunitas Linux, orang-orang yang sekarang ngomong Linux itu gak ada gregetnya sama sekali.

    Bikin artikel tanggapan dong😉

  2. Dedhi

    Udah lah, sampe sekarang kok masih pakai gratisan tak bersupport ala FreeBSD. Ganti dong pakai Windows Advanced Server Enterprise Edition, mumpung dapat bantuan MS. Sekalian biar canggih kampusnya, biar gak ketinggalan sama kampus kampus swasta yg udah pinter pinter lulusannya pakai produk MS.

  3. #6. Lha iya itu pak. Kita kan sudah mulai masuk ke sana, cuma gak akan lah gembar gembor di media kayak selebritis. Insyaallah ada beberapa business process di kampus saya yang akan di-streamlined dengan bantuan barang2 Microsoft itu. Tunggu aja tanggal mainnya. Kita juga evaluasi barang2 office nya yang asoi-asoi itu. Kalau utk server infrastruktur (mail, dns, cache, router) insyaallah kita tetap masih pakai yang terpercaya, yaitu FreeBSD.

  4. Tul.. setuju.. Just take that shit and get done with it.. mau pake apa kek.. yang penting kerjaan selesai. Efisiensi juga gak hanya uang, tapi waktu dan tenaga juga kudu dipikirken.

  5. daus

    bikin appliance Linux-based apa gitu yang bisa jadi produk yang bisa dijual, misalnya network appliance, security appliance, high-performance cluster, atau embedded Linux untuk perangkat rumah tangga.

    Siapa yg mo jadi investor pak?
    Disini kan blom ada vendor yg bangun research centre d indonesia.
    kalo mo ya terpaksa keluar ke kawah candradimuka SV, Bangalore dll
    kapan BHTV bisa spt itu?

  6. #9. Ya sebelum diberikan kepada investor, kenapa nggak mulai dari tugas kuliahan dulu ? Bisa diberikan kepada anak2 Teknik Elektro agar nggak jadi mahasiswa Sastra Elektro. Kalau produknya belum ada, apanya yang mau diberikan kepada investor ? Kalau untuk BHTV, ya mestinya mereka lihat ini jadi kesempatan, cuma gak tahu lagi deh, saya bukan orang BHTV.

  7. documen repository : alfresco, masih blom semudah klak klik kluk WSS, but worth to try.

    kalo mo lebih gampang lagi tinggal pake subversion + TortoiseSVN tapi yha masih harus checkin-out dari windows explorer ga dari office. hmm seru juga yah misalnya subversion diintegrate sama openoffice,😀 coba-coba aah..

    dont give-up on opensource, we believe in freedom😀

    regards

  8. daus

    #9. Ya sebelum diberikan kepada investor, kenapa nggak mulai dari tugas kuliahan dulu ? Bisa diberikan kepada anak2 Teknik Elektro agar nggak jadi mahasiswa Sastra Elektro. Kalau produknya belum ada, apanya yang mau diberikan kepada investor ?

    mereka jadi satra elektro krn nggak ada industri yg nampung kemampuan mereka disini, sehingga banyak dari mereka yg banting setir ke bidang lain untuk survive. Mungkin bang Aldrin Aviananda yg akhirnya bisa ngangkut ke Intel yg lain nggak tahu kemana.
    OpenSource menurut saya memberikan kesempatan untuk mewujudkan impian2 gila kita, Google contohnya.

  9. Rusmanto

    Ini kritik yang bagus. Trims Pak Adnan.
    Satu-dua saya sepakat, tapi tidak untuk lainnya, yang lebih disebabkan perbedaan acuan berpikir.

    Saya sepakat dengan nomor 1, 2, dan 3, meskipun tidak sepakat itu menjadikannya alasan kita membeli lisensi mahal dan melarikan devisa ke luar negeri.
    Semua kekurangan itu merupakan keniscayaan (konsekuensi logis) dari free software. Jika Microsoft pasang iklan MS Office, maka sebagian besar hasil penjualan MS Office untuk Microsoft. Sedangkan jika Entiti (no.2) pasang iklan OpenOffice, akan banyak entiti lain yang mendapatkan hasilnya. Adakah perusahaan di Indonesia yang mau berjuang untuk perusahaan lain?

    Untuk itulah, menurut saya pemerintah Indonesia yang harus menjadi entiti itu, agar keuntungannya dinikmati pemerintah dan banyak orang Indonesia.

    Pemerintah juga yang harus memberi peluang rakyat untuk belajar (pendidikan murah) dan medapatkan kesempatan berusaha. Ingat tender KPU 2004, seingat saya (cmiiw) mensyaratkan harus Windows dan MS Office, bagaimana mungkin peserta tender menawarkan Linux dan OpenOfffice?

    Jika negara memang berketetapan ingin mengeluarkan uang, keluarkan lah uang itu, tapi jangan mayoritas ke luar negeri. Banyak saudara kelaparan, banyak musibah, dan banyak di antara kita belum “merdeka”…

  10. #12. Betul juga sih, bahwa anak sekarang sekolah itu nggak tahu ilmunya mau dipakai untuk apa. Kebetulan saja ilmu saya ama kerjaan hari-harinya masih matching.

    #13. Wah, terimakasih atas infonya. Siapa tahu nanti saya mau coba pakai.

    #14. Terimakasih juga atas kritik dan sarannya pak Rusmanto. Mudah-mudahan ada yang dapat merealisasikan apa yang sama-sama kita cita-citakan, bahwa urusan Open Source dan sebagainya ini bisa jadi sesuatu yang sustainable dengan dukungan antara pemerintah (dengan will power, regulasi, subsidi), kalangan bisnis (dengan dana) dengan akademisi dan komunitas (dengan brain power dan padat karya).

    #15. Gak apa-apa pak, nasibnya orang namanya mirip, dan berkecimpung di bidang yang sama. Beliau kakak kandung saya.

    #16. Di FreeBSD gak ada aplikasi IBM ThinkVantage. Gak asik ah.

  11. #17. Yah desktop saya kan AMD64 rakitan, apalagi yang bisa mendukung 64-bit selain freebsd x64 (banyak sih, alesan aja, hehehe)… so far so good, i’m comfort with freebsd instead of windows… tapi tetep aja powerbook pake OSX kok. lagian, freebsd bermasalah di powerbook euy.

  12. #16 freebsd ala desktop? kenapa ga coba pcbsd ? keren lo😀

    windows dan server canggih model opteron itu buat usaha gede ato instasi dengan backing modal besar. buat ukm? wah .. harus mikir 1000x kayaknya🙂 kecuali ada investor ato dapet dana hibah🙂

    buat ukm dengan dana mandiri dan ingin legal, linux tetep jadi pilihan terbaik.

    saya setuju dengan pendapatnya mas affan ini
    “Tapi mbok yao naik kelas gitu lho. Misalnya bikin appliance Linux-based apa gitu yang bisa jadi produk yang bisa dijual,”

    bagaimana memberdayakan linux dan opensource itu supaya bisa jadi produk yang bisa menghasilkan duit, tidak sekedar hanya untuk dioprek😀 sudah saatnya programmer di indonesia belajar bikin program di linux. memport aplikasi aplikasi yang biasa dibikin di windows ke linux. khususnya aplikasi2 yg sering dipake sama ukm yah.. biar program program di linux makin banyak, murah dan populer🙂

    ngomong2, pak affan udah bikin “appliance Linux-based” apa nih yang menjual? jangan jangan udah mo produksi box IDS buat alternatif pengganti IDSnya cisco😀 hehehe…

    j/k

  13. #19. Saya sih kepikiran masalah box appliance itu dari ngelihat website VMware Virtual Appliances http://www.vmware.com/vmtn/appliances/. Saya kan hari-hari kumpul ama box-box yang makin lama makin banyak, dengan fungsi yang itu-itu aja. Kenapa box-box ini nggak distandarkan ? Misalnya box router firewall, monitoring system, IDS, proxy cache, dan sebagainya yang instalasi dan konfigurasinya sudah standar.

    Saya sih bisa aja coba ngoprek dan bikin sendiri, tapi sayang sekali sudah nggak sempat. Saya bisa aja sih nyuruh teman-teman junior di sini untuk bikin-bikin kayak gitu, cuma musti disuruh terus-terusan.

    Kalau cuma pengganti cisco, router FreeBSD yg saya pasang sudah bisa jalanin GRE tunnel, lalu peering BGP pakai TCP MD5 dengan router Juniper M20 yang ada di sisi NOC Singapura. Orang NOC di sana aja sampai kaget ketika tahu kita pakai PC router, bukan pakai Cisco dan sejenisnya.

    Itu untuk router, kalau yang lainnya saya yakin masih banyak prospeknya.

  14. dian

    Jika “katanya” Linux terpecah2 sendiri. Bagaimana dengan *BSD yang anda bangga-banggakan? Kan ada juga FreeBSD, OpenBSD, NetBSD, DragonflyBSD, mereka kan juga punya settingan yang berbeda-beda?

  15. #21. Forkingnya BSD itu nggak jauh-jauh mas, lari-larinya sih rc.conf juga, paling cuma beda direktori. Itu pun kita sudah tahu alasan spesifik kenapa kita pake FreeBSD, OpenBSD, NetBSD, DragonFlyBSD, PC-BSD dsb.

    Kalau saya sih pake FreeBSD karena dia sudah standar dipakai utk Internet server, dan aplikasinya banyak. Kalau mau berpetualang cari OS yang banyak arsitekturnya (dan kata buku “Code Reading” struktur source code nya paling bagus) pakai NetBSD. Kalau orang security freak, sukanya pakai OpenBSD. DragonFly perasaan nggak terlalu banyak userbase nya. PC-BSD buat FreeBSD freak yg butuh instalasi mudah utk desktop.

    Tapi kalau Linux itu weleh, fork nya jauh-jauh euy. Saya pribadi nggak punya alasan yang cukup jelas kenapa harus pakai RedHat, kenapa harus pakai Ubuntu, kenapa harus Slackware, kenapa harus OpenSUSE, kenapa harus IGOS. Nggak ada differensiasinya, kata orang marketing.

    Tapi itu cuma saya sih, nggak tahu kalau anda.

  16. Berarti “kerisauan” kita tentang GNU/Linux/Open Source sama mas affan. Saya pernah diskusikan tentang bagaimana Linux agar bisa wellcome pada seluruh user di Indonesia. Ide saya mungkin sama dengan dg mas affan, tapi kalo saya mengusulkan para pemain Linux harus masuk pada “medan peperangan” yang sama.Artinya harus “head to head” dengan vendor-vendor komersial atau dengan kata lain harus punya entitas bisnis yang serius menggarap Linux sebagai produk bisnis. Sehingga jelas aturan mainnya.

  17. # 26
    ada lah …sudah ada yg pernah melakukan terutama tahun 2004

    # 14
    siapa bilang waktu itu tender harus MS ?
    ada juga yang memasukkan selain MS , tapi harga nya 2X lipat …
    heheheh …

  18. bobby

    wah wah, mas affan ini rupanya punya banyak waktu untuk bikin blog yang kayak ginian yah, saya ajah yang cuman jadi mahasiswa tingkat 2 di itb, admin tf, dan staff maintenace uap comlabs, bingung buat bagi waktu, gak ada waktu bwt bikin beginian, pingin banget kayak mas affan bisa bagi2 ilmu, minta tips bagi waktunya dunks.

  19. sok_tahu

    Betul, dalam melihat semua itu perlu dilihat kebutuhannya, misal untuk kebutuhan Pc dengan Operating System dan aplikasinya bagi pengguna. Mari kita bagi jenis penggunanya, supaya bisa lihat apa sudah ada solusinya.

    Kalau penggunanya tipe yang bodoh dan kaya, gak masalah. Tersedia banyak pilihan yang mudah seperti Ms Windows dan Mac OS. Tinggal beli, makenya juga mudah, ada support, dsbnya.

    Kalau penggunanya tipe pinter tapi miskin, gak masalah juga, karena sudah ada Linux/BSD yang murah/gratis tapi rumit menggunakannya. Ya belajar cara makenya, cari-cari driver & aplikasi di google, beres.

    Yang repot kan kalau penggunanya sudah bodoh miskin pula … lalu apa pilihannya ? Apa gak kasihan tuh … mereka kan juga perlu komputer untuk bisa menaikkan kesejahteraannya melalui belajar atau berproduksi ? Suruh ngoprek Linux/BSD ? Gak nyampe otaknya. Suruh manyun aja … gak terjadi perubahan nasib nanti … tetep aja bodoh … gaptek terus … cari kerja susah. Lalu apa solusinya ? Suruh nyuri kan ? Bajak aja Ms Windows atau Mac OS (eh yang ini musti nyuri sama laptopnya kali ya)😉

    Nah … pengguna tipe ketiga ini yang perlu diperhatikan oleh “negara”. Kalau emang kita masih punya negara, pemerintah, institusi teknologi tinggi, orang pinter di kampus yang sekolahnya juga sudah makan subsidi uang negara banyak, blablabla ….

    Mustinya, orang sekelas Affan ini, yang sudah tahu luar-dalam permasalahan di BSD/Linux, sekolah di institusi teknologi ternama dan terhebat di Indonesia, bisa juga kasih keahliannya bantu untuk kebutuhan pengguna tipe ketiga ini. Kalau bukan orang seperti anda, siapa yang harus melakukannya ? Para pejabat yang make komputer aja masih sering salah ? Dosen yang cuman tahu konsep doank ? Atau anak-anak lulusan BiNus atau Politeknik aja yang suruh kerjakan ?

    Diperlukan pembagian tugas, karena untuk mikirin orang miskin yang sudah kebanyakan di Indonesia ini, diperlukan effort yang besuar. Pejabat saja … gak akan bisa beres … paling bicaranya di level politik saja. Selebritis IT saja juga gak bisa … paling cuman bicara yang bombastis tanpa realisasi nyata, tapi bagus untuk iklan dan meningkatkan “awareness”. Dosen saja … juga gak bisa … mereka mungkin bagus bikin konsep, pendekatan akademis, tapi skill lapangannya sering kalah sama mahasiswanya. Jadi musti ada juga yang engineer benerannya … orang seperti anda dan kawan-kawan anda.

    Karena anda engineer … tentu bisa bantu dibagian solusi teknik. Misal membuat solusi “murah” dan “mudah” dari misalnya pilihan operating sistem. Biar orang yang bodoh dan miskin punya peluang untuk belajar menggunakan dan mengerti tanpa harus mencuri.

    Untuk program open source, sepertinya pejabat pemerintahnya sudah mulai dukung. Ada kebijakan, ada perang wacana di level atas, ada dana yang dialokasikan, sudah kelihatan ada keseriusan. Good will nya sudah ada. Para selebritis IT sudah mulai ikutan bicara, dgn ngomong sana-sini dukung open source. Lumayan, bisa bantu jadi iklan dan penyebaran informasi. Dosen juga sudah mulai buka-buka buku, tulisan mengenai konsep open source, debat sana-sini, tulis sana-sini, bikin konsep pengembangannya, mulai masukan open source ke kurikulum, dsbnya. Tapi … kalau engineer seperti anda gak dukung … ya gak jadi apa-apa juga😦 Siapa yang sanggup … misalnya … bikin solusi untuk membuat Linux/BSD jadi lebih mudah untuk dijalankan di desktop/laptop ? Kalau orang seperti anda yang sudah ngoprek open source sejak tahun 1998 saja “angkat tangan” untuk bikin solusi open source ini lebih mudah digunakan orang biasa … lalu siapa yang bisa diharapkan lagi ?

    Jadi kita musti bisa “bersatu” atau paling nggak saling mendukung untuk tujuan yang “mulia” … ini bahasa yang emang agak berbau idealis sih. Tapi gak salah kan sedikit idealis … mumpung masih bisa idealis. Gak perlu 100% waktu dibuang untuk itu … cukup 50% atau 25% atau malah 10% saja lah … yang lainnya tetap bisa dipakai untuk meniti karir, mencari uang, ngurusin admin infrastruktur IT, dsbnya.

    – orang sok tahu –

  20. dikshie

    Admin juga manusia 2.0 ini apakah ada hubungannya juga dengan Web 2.0 kah ?

    BTW, ada beberapa hal menarik yng ingin saya share:
    1.salah satu developer zebra routing daemon (ospf6d, ripng) notebooknya IBM ThinkPad T42 dng windows XP operating system tiap kali presentasi pake MS Power Point.
    2.ada anak rusia yng dpt duit Google SoC kemaren kerja di-area NSSWITCH FreeBSD ternyata notebooknya windows XP terus ini anak barusan saya liat presentas pakai MS Power Point.
    3.ada orang Perancis yng kerja di mobile router (nemo/nautilus) tiap hari kerjaannya ngoprek NetBSD utk mobile router (embedded system), tapi notebooknya terinstall MS Windows dan tiap kali presentasi pake MS Power Point.

    jadi ya gunakan seperlunya sesuai kebutuhan🙂
    hihihihihi

  21. #29. Dengan saya menulis rants ini bukannya saya mengambil jarak dengan Open Source kok. Saya hanya melihatnya dari sisi kebutuhan user dan network administrator yang berinteraksi dengan Open Source ini, serta melihat apa respon kalangan yang katanya mengembangkan Open Source ini.

    Saya setuju bahwa bangsa ini harus maju, dan salah satunya dengan pengembangan Open Source ini sebagai alternatif dari software komersial yang telah ada. Tapi saya ingin kita yang bergerak di bidang Open Source ini juga melihat kenyataan yang ada. Beberapa pikiran saya agar Open Source ini dapat berkembang dengan keadaan saat ini saya tulis sebagai tiga poin dalam rants saya.

    Saya dengar kabar, katanya IGOS sudah mulai membuka IGOS Center di Bandung. Ini adalah awal yang bagus kalau akhirnya sudah ada arah kesana.

    Saya kira, masa depan Open Source nanti ada di Support System. Mau kita kembangkan software opensource atau proprietary, larinya akan ke Support System. Mau perusahaan selevel Sun, IBM, HP, Dell, mereka punya kekuatan di level Support berkelas dunia.

    Maaf pak kalau saya cuma bisa sumbang saran saja sih. Yang jelas,
    dengan pengetahuan IT yang Tuhan berikan kepada saya, saya bisanya cuma beri solusi IT kepada orang sesuai kebutuhan. Kalau memang orang itu saya rasa lebih baik pakai opensource, ya saya rekomendasikan opensource. Begitu juga dengan solusi lainnya.

    Terima kasih atas diskusinya!

  22. Atjeh

    “Jangan banyak komentar kalau ‘cuma’ bisa make”

    “Kalau mau enak bikin System Operasi sendiri, biar bisa merasakan apa yang ‘mereka’ rasakan”

    Jadilah manusia yang BIJAKSANA…….:D

  23. hallo smuanya kenalin nama ku Madan’ krja ngurusin jaringan di vedc malang Jatim. temen2 smua saya mnta dikasih petunjuk donk… gmn spy bisa mengotentikasi user pada squid, tp mw nya database user nya disimpan di MySql. ato mungkin ada solusi yang lain (spt Comlab itb gt deh) … thanks bwt petunjuknya.

  24. mas emangnya mas dah boat os neeh….

    emang selama ini mas udah knal linux nyampe mana

    klo emang freebsd lebih familiar

    aq minta sharing dong
    yah minimal kirimin free cd installer nya gtu
    ok bye

  25. nice writing,sir..

    Sebagai makhluk cerdas, jangan la kita dimanfaatkan ole benda, tapi manfaatkan benda (tools) tersebut dengan baik dan berguna..

    terimakasi..

  26. Ya.. ya.. ya.. Indonesia BISA!!
    pikirkan orang2 yang miskin dan bodoh, apakah untuk bisa mengerti komputer, mengetik mereka harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah yang bisa mereka pakai untuk makan selama mungkin berbulan-bulan? ato mereka harus masuk ke universitas dulu agar dapat produk + support gratis?? ini cuma masalah kebiasaan, bersatulah Indonesia, jadikan Indonesia negara yang disegani dunia karena kemandirian msyarakatnya, bukan karena ketergantungan kepada bangsa lain, ingat bung karno dulu begitu benci jika roda ekonomi bangsa ini dicampuri bangsa luar, tetapi apa akibatnya setelah suharto berkuasa?? apakah kita akan membiarkan keadaan ini terus menerus?? merasakan kemajuan yang sebenarnya hanya keterpurukan yang datang dalam bentuk lain??
    mari kita renungkan.. salam kenal..:)

  27. Ping-balik: Linux Movement. Akan Kemana ?

  28. Pak bener saya mau tobat nginstall win*** *p dan vi*** bajakan . . .
    Entah berapa komputer yang telah saya instalkan . . .

    Cuma user nya nih kebanyakan masih pemula gag mau repot hahaha jadi bingung bisa ngasih saran gag.

    Untuk linux indonesia >>
    cout << " MAJU ";

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s